Indragiri Hulu, (Inmas). Menindaklanjuti Surat Undangan Bupati Indragiri Hulu Nomor : 460/Dinsos/549, maka Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Indragiri Hulu dalam Isi Disposisi surat tersebut memberi penugasan kepada Kasi PAIS Kankemenag Kab. Inhu, H. Rajuki Ridwan, MA (urut tiga dari sisi kiri pada gambar) untuk mewakili Kakankemenag Kab. Inhu menghadiri sekaligus memipin doa bersama acara Peringatan Rengat Bersejarah 5 Januari 1949.
Rabu 5 Januari 1949 merupakan persitiwa kelam bagi warga Kota Rengat dan sekitarnya. Lebih kurang 2000 nyawa melayang, banjir darah mewarnai Kota Rengat. Mayat bergelimpangan di setiap sudut terutama di dua desa, sekarang bernama Sekip Hilir dan Sekip Hulu. Mereka menjadi korban keberingasan Agresi Militer Belanda di tahun itu. Ratusan tentara Belanda, tiba-tiba menyerang dari laut, udara dan darat. Pagi itu, dua kapal perang milik Belanda yang datang dari arah Tembilahan tiba-tiba mendarat di Sungai Indragiri, sekitar pukul 08.00 WIB. Dari dalam kapal perang bernama Gajah Merah, ratusan pasukan Baret Merah Belanda atau sering disebut Korp Spesialie Tropen (KST) di bawah komando Kapten Skendel keluar dan membakar Markas Kodim, Markas Polisi, Stasiun Radio, Sentral Telepon, Gudang Pelabuhan hingga Rumah Sakit. Kedatangan dua kapal perang Gajah Merah tersebut setelah sebelumnya pesawat Belanda membombardir Kota Rengat dan menerjunkan pasukan payung. Seketika bunyi bom yang meledak di tanah bersatu dengan pekik histeris warga yang panik. Dengan senjata otomatis dan modern, pasukan Belanda semakin ganas dan kejam. Mereka tidak bisa lagi membedakan yang mana TNI, Tentara Perjuangan Rakyat serta Masyarakat Sipil yang tidak berdosa. Tentara Belanda menembaki anak-anak, ibu hamil, dan orang tua. Tidak puas sampai di situ, tentara Belanda kemudian mengumpulkan lebih 2.000 penduduk dari segala penjuru Rengat. Mereka kemudian dibariskan di pinggir Sungai Indragiri, dan setelah itu terjadilah pembantaian massal. Sungai Indragiri yang kala itu tengah banjir berubah warna menjadi merah. Tidak peduli tua muda, anak-anak, wanita hamil menjadi korban, termasuk pemimpin Indragiri saat itu, Bupati Tulus juga menjadi korban. Dia ditembak di depan keluarganya beserta ribuan masyarakat, tidak peduli tentara atau tidak, lalu mayat dibuang ke Sungai Indragiri.
Tahun ini peringatan Rengat Bersejarah dipimpin wakil Bupati Inhu H. Khairizal, SE,M.Si.
Upacara digelar pada Selasa 5 Januari 2021, tempat di depan kediaman Bupati Inhu di mana terdapat tugu bersejarah dan merupakan tempat di mana ribuan masyarakat dibunuh dan dibuang ke Sungai Indragiri. Acara diakhiri dengan doa dan tabur bunga di pinggir Sungai Indragiri, demikian disampaikan Kasi PAIS Kankemenag Kab. Inhu.(tulang)