Perkebunan Sungai Lala: Desa Pioner Swasembada Mandiri Biogas
Ringkasan:
Pekanbaru, 24/3 (Humas)- Dalam acara ekspos Pembangunan Agama dan Keagamaan di Air Molek (14/2), Kakanwil Kemenag Riau berkesempatan mengunjungi Desa Perkebunan Sungai Lala Kecamatan Sungai Lala Indragiri Hulu. Dalam kunjungan itu hadir juga Bupati Indragiri Hulu Drs.
Pekanbaru, 24/3 (Humas)- Dalam acara ekspos Pembangunan Agama dan Keagamaan di Air Molek (14/2), Kakanwil Kemenag Riau berkesempatan mengunjungi Desa Perkebunan Sungai Lala Kecamatan Sungai Lala Indragiri Hulu. Dalam kunjungan itu hadir juga Bupati Indragiri Hulu Drs. H. Mujtahid Talib yang memberikan sumbangan uang tunai senilai Rp10 juta. Sedangkan Kakanwil Kemenag Riau menyerahkan genset untuk masjid yang nantinya menggunakan bahan bakar biogas.
Desa Perkebunan Sungai Lala adalah desa pioner pemanfaatan biogas dari pengolahan kotoran sapi. Penggunakan teknologi pengolahan biogas tersebut sudah dimulai sejak akhir tahun 2008, demikian penuturan Pak Karmijun (57). Beliau adalah orang yang pertama sekali menggunakan biogas yang juga merupakan anggota kelompok tani pengolah kotoran sapi menjadi biogas. Tahun 2010 ini anggotanya sudah berjumlah 31 orang.
Secara sederhana proses pengolahan kotoran dimulai dari pengumpulan kotoran sapi di bak penampungan yang volumenya sebesar 5,8 kubik. Ada tiga unit bak penampungan dengan ukuran yang sama untuk mengolah kotoran. Setelah kotorannya diolah dan dipisahkan dengan menggunakan teknik tertentu, kemudian dipindahkan ke bak kedua. Di bak kedua ini kotoran sudah berubah bentuk, dinetralisir dan ada gas yang dihasilkan.
Melalui instalasi pipa terpasang, gas tersebut langsung dialirkan ke kompor gas di rumah atau ke penampungan portabel yang terbuat dari ban bekas. Ban portabel biogas itu bisa diisi ulang (refil) dan dipindahkan sesuai dengan kebutuhan apabila lokasi pengguna kebetulan jauh dari bak pengolahan, demikian jelas Pak Karmijun lagi.
Meskipun biogas sudah bisa dihasilkan, namun untuk menggunakannya langsung harus menggunakan kompor gas khusus yang dipesan dari Jawa. Untuk itu ke depan masih banyak yang harus diperbaiki dan dilengkapi baik dari peralatan maupun sumber kotoran. Saat ini kotoran yang diolah baru berasal dari 4 ekor sapi.
Menyinggung masalah sumber biogas, Bupati Inhu Mujtahid Talib menyarankan, untuk memenuhi bahan kotoran sapi bisa bekerja sama dengan peternak-peternak sapi yang kotorannya sering terbuang percuma. Misalnya peternakan sapi yang diusahakan oleh Pesantren Khairu Ummah Air Molek, tambahnya. (as).