Kuansing (Kemenag) โ Penguatan kompetensi Kepala Labor Pendidikan Agama Islam (PAI) digelar melalui pendidikan dan pelatihan khusus yang melibatkan Loka Pendidikan dan Pelatihan Keagamaan Pekanbaru. Kegiatan ini diikuti oleh 120 peserta yang terbagi dalam tiga angkatan, yakni angkatan 4, 5, dan 6, masing-masing berjumlah 40 orang. Diklat ini dirancang untuk menjawab tantangan mutu pendidikan keagamaan yang terus berkembang serta memperkuat peran strategis kepala labor PAI di sekolah.
Kegiatan pendidikan dan pelatihan tersebut dilaksanakan pada Rabu, (17/12/2025), bertempat di SMP Negeri 5 Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi. Diklat dimulai pukul 13.15 WIB dan berlangsung dengan suasana interaktif serta penuh antusiasme peserta. Acara dipandu oleh salah seorang staf Loka Diklat Keagamaan Pekanbaru yang memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib dan efektif.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuantan Singingi, Suhelmon, hadir langsung sebagai pemateri utama dalam kegiatan tersebut. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya penguatan peran labor PAI di era Asta Protas atau delapan program prioritas Kementerian Agama. Menurutnya, labor PAI tidak lagi diposisikan sekadar sebagai ruang penyimpanan alat praktik, tetapi harus menjadi pusat pembelajaran nilai, sikap, dan keterampilan keagamaan.
โDi era Asta Protas Kementerian Agama, labor PAI harus hidup dan menghidupkan nilai-nilai program prioritas tersebut. Kepala labor PAI diharapkan mampu memilih minimal satu Asta Protas yang paling relevan untuk diimplementasikan secara konsisten oleh guru PAI di sekolahnya,โ ujar Suhelmon dalam penyampaian materinya di hadapan peserta diklat.
Lebih lanjut, Suhelmon menjelaskan bahwa tuntutan mutu pendidikan yang semakin tinggi menuntut kepala labor PAI untuk memiliki kompetensi manajerial dan inovatif. Kurikulum yang terus berkembang, metode pembelajaran yang berubah, serta karakter peserta didik yang semakin kritis mengharuskan kepala labor mampu mengelola program, sarana, administrasi, hingga inovasi pembelajaran yang kontekstual dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Dalam sesi diskusi, salah seorang peserta mengajukan pertanyaan mengenai cara agar program keagamaan yang diajarkan di sekolah dapat menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Menanggapi hal tersebut, Suhelmon menekankan pentingnya kegiatan keagamaan yang berdampak nyata. โImbaskan kegiatan keagamaan menjadi praktik langsung, gunakan kartu kendali kegiatan keagamaan, dan kurangi pendekatan hukuman. Gantilah dengan reward agar siswa termotivasi,โ jelasnya.
Kegiatan diklat ini juga dibersamai oleh Kepala Seksi Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuantan Singingi, Burdianto. Salah seorang peserta turut memberikan masukan reflektif dengan menyampaikan bahwa dakwah pertama seorang Guru PAI sesungguhnya adalah kepada Kepala Sekolah. Pernyataan ini menegaskan pentingnya sinergi kepemimpinan sekolah dalam menghidupkan nilai-nilai keagamaan secara berkelanjutan. (YZG)