0 menit baca 0 %

Peserta PDWK Antusias Simak Materi Peneliti BRIN tentang Sketsa Kehidupan Beragama

Ringkasan: Rokan Hilir (Inmas) Pelatihan Penggerak Penguatan Moderasi Beragama Berbasis Rumah Ibadah Angkatan II yang diselenggarakan di Aula Gedung PLHUT Kabupaten Rokan Hilir kini memasuki hari kedua. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Loka Diklat Keagamaan Pekanbaru tersebut diisi dengan pemaparan materi te...

Rokan Hilir (Inmas) – Pelatihan Penggerak Penguatan Moderasi Beragama Berbasis Rumah Ibadah Angkatan II yang diselenggarakan di Aula Gedung PLHUT Kabupaten Rokan Hilir kini memasuki hari kedua. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Loka Diklat Keagamaan Pekanbaru tersebut diisi dengan pemaparan materi tentang Sketsa Kehidupan Beragama oleh Peneliti Ahli Madya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Abdul Jamil Wahab, M.Si, Selasa (14/05/2024).

Dalam materinya disampaikan secara daring, Jamil mengungkapkan bahwa terdapat beberapa hal yang perlu disampaikan kepada peserta pelatihan terkait Portrait atau Sketsa Kehidupan Beragama di Indonesia, baik peristiwa keagamaan yang bersifat positif maupun peristiwa yang bersifat negatif atas dasar riset yang telah dilaksanakan selama tahun 2010 s.d 2020.

“Yang pertama yang ingin kami sampaikan adalah peristiwa baiknya terlebih dahulu, yaitu bahwa Indeks kerukunan beragama di Indonesia itu berdasarkan hasil survei Badan Penelitian dan Pengembangan berada pada angka diatas 70 dan bisa dikatakan masuk dalam kategori baik” ucapan Jamil.

Jamil menjelaskan data tersebut diperoleh dengan melakukan survei pada setiap provinsi lalu dipilih beberapa Kabupaten / melalui random sampling, serta ditingkat kecamatan, kelurahan sampai ke rumah yang akan dimintai datanya, menurut Jamil itulah metode yang dipakai dan tentunya bisa dipertanggungjawabkan.

“Kami ingin kembali mengatakan berdasarkan survei yang dilakukan dari tahun 2011 sampai  2023 kerukunan umat beragama di Indonesia sangat menggembirakan dan sangat kondusif, antar umat beragama memiliki semangat toleransi, saling menghargai satu sama lain sehingga mewujudkan kehidupan yang harmonis antar umat beragama" pungkasnya.

Sementara itu, peristiwa keagamaan negatif yang menjadi tantangan di Indonesia berdasarkan penuturan Jamal, diantaranya ekstrimisme dan radikalisme. Adapun kriteria radikalisme menurutnya yaitu individu merasa keyakinannya yang paling benar dan intoleran serta tidak bisa menerima orang lain yang berbeda indentitas dan pendapatnya. Menurut Jamil dalam konteks agama, agama lain tidak boleh ditolak walaupun kita tidak meyakini kebenaran agama lain.

“Dalam ajaran Islam hal tersebut disampaikan dalam QS. Al- Kafirun Ayat 6 yang artinya “Untukmu agamamu dan untukku agamaku”. Jika dimaknai ayat tersebut menunjukkan bahwa apa yang disembah, diikuti dan dipercayai pemeluk agama Islam tidak sama dengan apa yang pemeluk agama lain yakini. Ini lah keutamaan dari ayat ini, sehingga menjadi identitas dan pembeda antara muslim dan umat agama lainnya” tutur Jamil.

Sebelum menutup materinya Jamil menegaskan bahwa seluruh agama di Indonesia sudah sangat kondusif dan baik. Sehingga setiap individu khususnya para peserta pelatihan harus bisa mengantisipasi agar tidak sampai menyebar paham – paham ekstrimisme, paham – paham anti kebangsaan, anti Pancasila dan anti toleran pada ajaran agama yang berbeda. Selain itu setiap individu harus mewaspadai penyebaran informasi yang mempunyai dua sisi, baik sisi positif maupun negatif. 

Seluruh peserta tampak fokus dan antusias menyimak pemaparan materi yang disampaikan oleh Jamil, disamping itu mereka juga memanfaatkan kesempatan pada sesi sharing dan diskusi antara peserta dengan pemateri yang dihadirkan oleh Loka Diklat Keagamaan Pekanbaru. (Humas)