Rokan
Hilir (inmas)- Sudah menjadi rutinitas bagi ASN di lingkungan Kantor Kementerian
Agama (Kemenag) Kabupaten Rokan Hilir untuk menyelenggarakan apel setiap hari
senin. Demikian pula pemandangan yang terlihat di halaman KanKemenag Rohil, Senin
(24/5).
Bertindak
selaku pemimpin apel Staff PHU M. Safri Johan dan Pembina Apel Plt Kakan
Kemenag Rohil, Drs. H. Naini, M.Pd.I.
Dalam
amanatnya Plt meminta jajarannya untuk selalu mematuhi aturan kepegawaian,
mulai dari apel pagi, absensi, dan melakukan aktivitas pelayanan masyarakat
dalam rangka melaksanakan program-program kinerja dengan baik. Disamping itu,
disipilin yang tinggi merupakan cerminan dari sumber daya manusia yang berkualitas.
"Disiplin
aparatur sipil negara merupakan komitmen dan kesanggupan kita untuk mentaati
dan berkewajiban serta menghindari larangan dalam peraturan perundang-undangan.
Dan jika dilanggar maka akan dijatuhi hukuman disiplin yang berlaku," kata
H. Naini yang tugas utamanya sebagai Kasi Penmad.
Lebih
lanjut Plt menjelaskan tiga tipe kepemimpinan, Autocratic, Democratic dan Laissez
faire. Pertama Pemimpin dengan gaya kepemimpinan autocratic adalah
gaya kepemimpinan satu arah. Seorang pemimpin autocratic akan mengarahkan
orang lain untuk mencapai visinya. Anda cenderung memegang kontrol dan
mengambil keputusan sendiri tanpa meminta pendapat orang lain.
Pemimpin autocratic cenderung
ditakuti oleh pegawainya. Sikap Anda yang tegas sering disalahartikan sebagai
bentuk emosi atau dianggap terlalu kaku. Meskipun gaya autocratic paling
tidak disukai, tapi gaya kepemimpinan ini sangat cocok untuk pengambilan
keputusan di saat kritis.
Kedua
Pemimpin democratic adalah pemimpin yang membuka ruang opini bagi
anak buahnya. Meskipun hanya Anda yang memegang kendali, namun Anda sangat
memperhatikan pendapat-pendapat anak buah Anda. Pemimpin democratic cenderung
mengambil sebuah keputusan atas persetujuan kelompok. Gaya kepemimpinan adalah
gaya kepemimpinan yang paling digemari oleh sebagian besar kelompok.
Meskipun
gaya kepemimpinan democratic lebih sering digunakan, namun gaya ini
tidak cocok untuk pengambilan keputusan di saat kritis. Menyatukan berbagai
jenis pendapat bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan waktu lama.
Dan ketiga
gaya kepemimpinan Laissez-faire berasal dari bahasa Perancis yang berarti izin
bertindak?. Laissez-faire adalah tipe gaya kepemimpinan yang
cenderung pasif. Pemimpin dengan gaya kepemimpinan ini akan membiarkan orang
lain untuk mengambil keputusan. Anda menyerahkan keputusan sepenuhnya di tangan
kelompok. Namun hal ini bukan berarti Anda tidak ikut campur dalam proses
diskusi. Dalam proses ini, Anda lebih berperan sebagai pengawas.
Dalam
proses diskusi, Anda akan memberikan dampak positif dan negatif dari setiap
keputusan yang diambil. Jadi meskipun Anda menyerahkan keputusan sepenuhnya ke
dalam tangan kelompok, Anda tidak membiarkan mereka mengambil keputusan tanpa
arah. Namun, sama seperti pemimpin democratic, gaya  laissez-faire tidak
cocok digunakan pada saat kritis karena akan menghambat pengambilan keputusan.
“Ketiga gaya kepemimpinan hanya akan efektif jika disesuaikan dengan kondisi,” Plt menutup amanatnya.
Apel
diikuti oleh Para Kepala Seksi dan Penyelenggara, beserta seluruh staf PNS
maupun Non PNS. (Nsh)