0 menit baca 0 %

Pondok Modern Nurul Hidayah Gelar Malam Temu Ramah dengan Wali Santri Baru

Ringkasan: Bengkalis (Kemenag) Untuk menjalin hubungan dan mempererat tali silaturahmi antara kedua belah pihak, Ketua Yasayan bersama Pimpinan Pondok Modern Nurul Hidayah menggelar acara Temu Ramah .bersama para wali santri baru termasuk dengan para ustadz di pondok pensantren itu pada Rabu, 06/08/2024 malam...

Bengkalis (Kemenag) – Untuk menjalin hubungan dan mempererat tali silaturahmi antara kedua belah pihak, Ketua Yasayan bersama Pimpinan Pondok Modern Nurul Hidayah menggelar acara “Temu Ramah”.bersama para wali santri baru termasuk dengan para ustadz di pondok pensantren itu pada Rabu, 06/08/2024 malam di Masjid Khairul Jamaah milik Ponpes.

Kegiatan temu ramah di awali dengan sekapur sirih dari Ketua yayasan ustadz Abdul Wahid, dilanjutkan  pengarahan oleh Pimpinan Pondok Modern Nurul Hidayah KH. Ahmad Pamuji.

Menurut KH. Ahmad Pamuji orang tua santri harus terlebih dahulu memahami lima prinsip dasar yang  harus di pegang  teguh selama mereka para santri baru menempuh dunia pendidikan di pesantren ini.

Pertama adalah Tega, Prinsip ini menegaskan, bahwa selaku orang tua/ wali santri harus tega meninggalkan anak mereka di pesantren ini.  Seringkali para ibu/ibu mengalami sindrom "tidak tega" saat menitipkan anak mereka, namun harus  di ingat bahwa pesantren adalah tempat mendidik dan mengasuh anak, bukan tempat pembuangan atau penjara. Para Orang tua diminta untuk yakin bahwa keadaan anak mereka di pesantren jauh lebih baik. Sambil KH Ahamd Pamuji mengutip ayat Al-Qur'an surat Ibrahim ayat 37 yang menceritakan kisah Nabi Ibrahim meninggalkan putranya di gurun tandus tanpa sarana apapun pada peristiwa berkorban.

Yang Kedua adalah Ikhlas. Kepada setiap orang tua/ wali santri  diharapkan Ikhlas atas apa yang dijalani oleh anak-anak mereka selama menjalankan proses di pesantren ini. Proses ini mencakup berbagai kegiatan seperti hafalan, latihan, dan pengaturan waktu yang ketat.

KH. Ahamd Pamuji juga menekankan bahwa pesantren bukanlah sebuah hotel yang menyediakan kenyamanan, namun sebaliknya pesantren merupakan tempat pendidikan yang memiliki aturan dan disiplin tersendiri. Oleh karena itu, orang tua/ wali santri harus ikhlas dan tidak boleh merasa keberatan jika anak-anak mereka menjalani  proses yang mungkin berbeda dengan kehidupan yang  nyaman di rumah.

Ketiga Tawakkal. Prinsip ini menjelaskan bahwa menyerahkan segala sesuatunya itu hanya kepada Allah SWT. Ustadz mengingatkan bahwa pesantren bukanlah tempat yang dapat mengubah anak dengan sekejap. Orang tua harus senantiasa berdoa dserta tawakkal kepada Allah agar proses pendidikan yang dijalani para santri berjalan dengan lancar penuh kebaikan.

Keempat Ikhtiar. Prinsip ini merujuk pada usaha orang tua dalam mendukung pendidikan para santri dari segi finansial. Tidak semua pondok pesantren adalah lembaga amal, dan banyak di antara pondok pesantren tidak memberikan gaji para ustadznya. Oleh karena itu orang tua harus memahami bahwa biaya yang mereka keluarkan dan akan kembali kepada anak mereka dalam bentuk pendidikan serta pembinaan yang baik.

Kelima  Percaya.  Prinsip yang terakhir ini diminta  agar kepada orang tua / wali santri untuk percaya bahwa anak-anak mereka dibina dengan baik oleh pesantren. KH Ahmad Pamuji juga mengingatkan supaya orang tua/ wali santri tidak salah paham atau salah persepsi ketika melihat para santri menjalankan tugas-tugas tertentu di pesantren seperti membersihkan lingkungan dan sebagainya. Semua kegiatan itu  merupakan bagian dari pembinaan yang bertujuan untuk menjadikan mereka pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.

Sebagai penutup, KH Ahmad Pamuji mengingatkan kepada para wali santri untuk senantiasa ikhlas dan yakin bahwa anak-anak mereka akan kembali sebagai pribadi yang lebih baik dan berbakti. Beliau juga menekankan akan pentingnya mendukung anak-anak mereka dengan doa dan kepercayaan yang penuh terhadap proses pendidikan yang sedang berlangsung di pesantren.

Akhirnya kegiatan temu ramah berjalan dengan penuh keakbraban dan kehangatan,  sehingga diharapkan dapat menjadi langkah awal yang baik untuk menjalin kerjasama antara orang tua dan pihak pesantren serta masa depan para santri. (*)