0 menit baca 0 %

Pospenas V Diwarnai Aksi Protes dan Diskualifikasi Atlet Nonsantri

Ringkasan: Surabaya (HUMAS) - Pekan Olahraga dan Seni Antar Pondok Pesantren Nasional (Pospenas) V Tahun 2010 di Surabaya sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dimana, Pospenas 1-11 Juli tahun 2010 ini diwarnai aksi protes dan diskwalifikasi peserta. Karena diduga peserta yang berlaga dalam pekan olahra...
Surabaya (HUMAS) - Pekan Olahraga dan Seni Antar Pondok Pesantren Nasional (Pospenas) V Tahun 2010 di Surabaya sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dimana, Pospenas 1-11 Juli tahun 2010 ini diwarnai aksi protes dan diskwalifikasi peserta. Karena diduga peserta yang berlaga dalam pekan olahraga dan seni tersebut merupakan non santri bahkan merupakan atlet dari Pusat Pendidikan Latihan Pelajar (PPLP). Kondisi tersebut diakui oleh tim keabsahan Pospenas V tahun 2010, Agus Prayitno, Sabtu (10/7), sehingga memutuskan untuk melakukan penyidikan semampunya. Dia mengatakan, selama ini, tim keabsahan Pospenas 2010 sudah melakukan penyeleksian yang didasarkan dari dokumen dari peserta santri. Selanjutnya memverifikasi dokumen para atlet santri di antaranya status santri, ijazah asli dan foto copy, rapor dari ponpes, dan surat keterangan pondok pesantren. "Di Pospenas kali ini dokumen memang lengkap, tidak ditemukan atlet PPLP. Akan tetapi begitu dilaksanakan pertandingan ternyata banyak yang protes. Banyaknya banyaknya atlet nonsantri yang lolos berlaga di Pospenas, barangkali karena lemahnya proses verifikasi yang dilakukan," akunya. Ditempat terpisah, Ketua Bidang Pertandingan Bulu Tangkis Pospenas, Eddyanto Sabarudin, mengatakan atlet bukan santri pesantren digunakan hampir semua kontingen daerah. Ungkapan tersebut cukup beralasan karena ia sebagai salah seorang pengurus PBSI Pusat sering memimpin turnamen atau kejuaraan, khususnya cabang olahraga bulu tangkis di berbagai daerah. "Kami tidak bisa berbuat banyak, termasuk mencoret atlet nonsantri tersebut, karena tidak memiliki kewenanga, kami hanya sebagai pelaksana lapangan," ungkapnya. Sementara itu dari hasil bersih-bersih atlet non santri yang dilakukan oleh Pantiai Pospenas, Kamis kemarin juga terkesan diskriminatif. Sebab, tim tuan rumah, Jawa Timur juga terindikasi menggunakan paling banyak atlet nonsantrinya. Sehingga, antara panitia dan beberapa daerah sempat terjadi saling tuding karena tidak terima atlet-atlet mereka yang di diskualifikasi karena diduga non santri alias altet bon-bonan. Beberapa informasi atlet bon-bonan pada cabang renang, Jatim menurunkan atlet Dimas Brillyan Saputra dan berhasil menyumbangkan satu emas kepada Jatim. Jatim juga nekat menurunkan Wiranto Adi Wicaksono. Padahal, Wiranto adalah atlet binaan Klub Renang Petrokimia Gresik. Dalam lomba tersebut Wiranto juga menyumbangkan satu emas di nomor 100 meter gaya bebas putra. Sementara untuk Provinsi lain yang juga menggunakan atlet bon bonan hingga saat ini masih dilakukan pemeriksaan berkas oleh panitia. (msd/js)