0 menit baca 0 %

Presiden SBY Buka Muktamar ke-32 NU

Ringkasan: Makassar(Pinmas)-- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa (23/3) pukul 13.00 WITA menghadiri Pembukaan Muktamar ke-32 NU di Gedung Celebes Convention Centre Jl. Metro Tanjung Bunga, Pantai Losari Makassar, Sulawesi Selatan. Muktamar yang berlangsung pada 23-28 Maret ini bertemakan Khidmah Nahdliy...
Makassar(Pinmas)-- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa (23/3) pukul 13.00 WITA menghadiri Pembukaan Muktamar ke-32 NU di Gedung Celebes Convention Centre Jl. Metro Tanjung Bunga, Pantai Losari Makassar, Sulawesi Selatan. Muktamar yang berlangsung pada 23-28 Maret ini bertemakan Khidmah Nahdliyah untuk Indonesia Bermartabat. Dalam sambutannya, Rais Aam PBNU MA Sahal Mahfudh mengatakan, pertemuan ini untuk membaca ulang asal-usul untuk apa NU didirikan dan pada skala apa. Selanjutnya, Sahal menyinggung sedikit soal terorisme yang marak terjadi dan mengatasnamakan Islam. Kami pandang munculnya gerakan-gerakan terorisme sebagai kurangnya ilmu dan kesabaran dalam menempuh perjuangan, maka ulama bertekad mengambil bagiann dalam upaya mengatasi masalah kemanusiaan, ujar Sahal. Sementara itu, di awal sambutannya, Presiden SBY mengucapkan selamat atas Muktamar ke-32 NU. Kepada seluruh muktamirin yang datang dari seluruh tanah air, saya berharap muktamar kali ini dapat meneguhkan khittah Nahdlatul Ulama sebagai organisasi pendidikan dakwah dan sosial kemasyarakatan yang berhaluan ahlus sunnah wal jamaah, ujar SBY. Khittah dan perjuangan NU, lanjut SBY, senantiasa menjunjung tinggi keberagaman dan toleransi beragama yang tidak lekang di makan zaman. Nahdlatul Ulama telah menjadi pelopor dalam membangun peradaban yang berbasis pada nilai-nilai keislaman, sekaligus ke-Indonesia-an. Aktivitas pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal sekaligus nilai-nilai ke-Indonesia-an yang mulia, serta nilai-nilai Islam universal yang luhur, kata SBY. Presiden atas nama negara dan pemerintah, menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada NU atas peran, jasa, dan pengabdiannya kepada bangsa dan Negara, sejak kelahirannya tahun 1926 sampai sekarang. Sebelum kemerdekaan, keluarga besar NU ikut aktif membangun wawasan kebangsaan, seraya membangun kehidupan bangsa yang religius, Presiden SBY menambahkan. Presiden SBY menambahkan, transformasi dan reformasi yang tengah berlangsung dewasa ini, tidak boleh membuat bangsa Indonesia kehilangan nilai-nilai luhur, jati diri, dan kearifan peradabannya. Kebebasan dan keterbukaan yang makin mengemuka dewasa ini, tidak boleh meninggalkan kesantunan dan kepatuhan kepada pranata agama, hukum dan sosial. Demokrasi di samping memekarkan hak dan kebebasan, tetaplah dalam relung keteduhan dan ketenteraman, kata SBY. Muktamar ke-32 NU ini bertemakan Khidmah Nahdliyah untuk Indonesia Bermartabat. Sebelumnya, Presiden berharap NU tetap menjadi pelopor dan memberikan teladan agar Indonesia menjadi bangsa yang pandai bersyukur, sabar, tegar dan terus berihktiar. Bukan bangsa yang cepat putus asa, gemar mengeluh dan hanya pandai menyalahkan pihak lain. Menjadi bangsa yang mestinya ikut memecahkan masalah, dan bukan hanya menonton saudara-saudaranya yang tengah bekerja keras, SBY menandaskan. NU memiliki budaya dan tradisi yang mulia, untuk tidak mudah tergoda dan larut dalam politik praktis. Politik NU adalah politik yang berada pada tatanan nilai-nilai luhur, mengedepankan kepentingan umat, dan menjunjung tinggi moralitas akhlakul karimah, ujar Presiden SBY. Dalam perjalanan sejarahnya, NU dapat membuktikan bahwa Islam, demokrasi, dan modernitas dapat berjalan seiring dan sejalan, bahkan saling melengkapi. Pada akhir sambutannya, Presiden berharap kembali kebangkitan ulama atau nahdlatul ulama, sebagaimana kebangkitannya di awal abad ke-20, hampir seratus tahun yang lalu. Ke pundak para ulama, kita menggantungkan harapan agar rakyat dan bangsa kita menjadi rakyat dan bangsa yang bermartabat. Para ulama dapat menjadi penjuru dan pembimbing dalam membangun masyarakat Indonesia yang berkarakter, berakhlak mulia, berbudi luhur, dan berdaya saing, kata Presiden SBY Muktamar ini dihadiri sekitar 4.500 peserta dari seluruh Indonesia. Tampak pula mantan Wapres Jusuf Kalla beserta istri dan Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie, Menteri Agama Suryadharma Ali, serta duta besar dari Saudi Arabia, Amerika Serikat, Jerman, Singapura, Maroko, Oman, Yaman, dan lainnya.(sby.info/ts)