Presiden SBY Pada Peringatan Nyepi: Kita Ingin Membangun Manusia Indonesia yang Berakhlak
Ringkasan:
Jakarta(Pinmas)--Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Bambang Yudhoyono serta Wapres Boediono dan Ibu Herawati Boediono menghadiri acara Dharma Santi Nasional Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1932, Minggu (4/4) sore, di Gelanggang Olahraga Ahmad Yani, Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Tim...
Jakarta(Pinmas)--Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani Bambang Yudhoyono serta Wapres Boediono dan Ibu Herawati Boediono menghadiri acara Dharma Santi Nasional Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1932, Minggu (4/4) sore, di Gelanggang Olahraga Ahmad Yani, Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. Perayaan Hari Raya Nyepi kali ini mengambil tema `Jadikan Perayaan Nyepi 1932 Sebagai Momentum Penyadaran Diri dan Perekat Persaudaraan untuk Bersama Memajukan Bangsa.`
Presiden SBY mengimbau umat Hindu untuk menjalankan dan mengaplikasikan pesan penting dalam tema perayaan Nyepi kali ini dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di masa kini dan di masa depan. "Kita ingin mewujudkan masyarakat, bangsa dan negara yang demokratis, bermatabat, dan menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia. Kita juga ingin mewujudkan pembangunan yang adil dan merata yang hasilnya dapat dinikmati segenap warga bangsa di seluruh tanah air, " kata SBY.
Pada sambutannya, SBY memberikan ucapan selamat sekaligus mendoakan umat Hindu mendapatkan lindungan dari Tuhan Yang Maha Esa serta mendapatkan kedamaian, kebahagian, dan keadilan dalam menjalani kehidupan. "Semoga pula perayaan Nyepi yang saudara-saudara rayakan meningkatkan kualitas mental dan spiritual dalam menghadapi tantangan hidup di masa depan," ujar SBY.
Pembangunan watak amatlah penting. Presiden SBY menegaskan, kita ingin membangun manusia Indonesia yang berakhlak, berbudi pekerti, dan berperilaku baik. "Bangsa kita ingin pula memiliki peradabaan yang unggul dan mulia. Peradabaan demikian dapat kita capai apabila masyarakat kita juga merupakan masyarakat yang baik, dan masyarakat idaman seperti itu dapat kita wujudkan manakala manusia Indonesia adalah manusia yang berakhlak dan berwatak baik, manusia yang bermoral dan beretika baik, serta manusia yang bertutur dan berprilaku baik," Presiden SBY menjelaskan.
"Itulah sebabnya kita sungguh menggarisbawahi pentingnya pendidikan dan karakter bangsa dalam arti yang luas. Bangsa yang berkarakter unggul disamping tercermin dari moral, etika, dan budi pekerti yang baik juga ditandai dengan semangat, tekad, dan energi yang kuat, dengan pikiran yang positif dan sikap yang optimis serta dengan rasa persaudaraan, persatuan, dan kebersamaan yang tinggi," lanjut SBY.
Presiden juga menyampaikan perlunya untuk terus memperkokoh persatuan, persaudaraan dan kebersamaan sebagai bangsa. Dengan itu kita mampu menjalankan kehidupan bernegara yang baik bertumpu pada empat pilar utama, yaitu Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.
SBY juga berpesan untuk terus merajut persaudaraan yang hakiki dan merekatkan hubungan sosial diantara seluruh warga bangsa. "Mari kita tingkatkan saling percaya, saling peduli, dan saling membantu satu sama lain. Mari kita bersama-sama meningkatkan kualitas kehidupan berbangsa yang serasi, selaras, dan seimbang," ujar Presiden.
Ketua Umum Pengurus Harian Parisada Pusat I Made Gde Erata mengutarakan, pada awalnya Tahun Saka adalah tonggak sejarah yang mengakhiri permusuhan antar suku-suku bangsa dan kebangkitan toleransi antar umat beragama, pada tahun 78 Masehi. "Dewasa ini makna ini dapat diterjemahkan dalam pembentukan forum komunikasi antar umat beragama," jkata I Made Gde Erata.(sby.info/ts)