0 menit baca 0 %

Puasa Adalah Keikhlasan dan Kesabaran

Ringkasan: Pekanbaru (Humas)- Puasa adalah keikhlasan, keikhlasan untuk menjalankannya. Karena jika tidak ikhlas, maka amalan puasa yang kita lakukan sama dengan bangkai yang hanya menimbulkan kebusukan dan kita merasa telah berbuat amalan. Dengan keikhlasan sesuatu yang berat dikerjakan akan terasa ringan, ba...
Pekanbaru (Humas)- Puasa adalah keikhlasan, keikhlasan untuk menjalankannya. Karena jika tidak ikhlas, maka amalan puasa yang kita lakukan sama dengan bangkai yang hanya menimbulkan kebusukan dan kita merasa telah berbuat amalan. Dengan keikhlasan sesuatu yang berat dikerjakan akan terasa ringan, bahkan lebih istimewanya lagi keikhlasan bisa mengantarkan kita masuk syurga. Demikian diantara inti Tauziah yang disampaikan oleh H Lukman Syarif MA pada acara halal bihalal di Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Riau. Selain itu, kata Lukman, puasa juga setengah dari kesabaran, sabar menghadapi cobaan, sabar menahan hawa nafsu dan sabar dalam memberi nasehat. Dengan kesabaran akan melahirkan keberhasilan, contohnya banyak orang sukses bukan hanya karena dia pintar tapi karena dia sabar. "Dengan puasa mengajarkan kita untuk bersabar," uncapnya. Uztad Lukman menambahkan, dalam puasa dibagi dalam tiga kategori. Pertama, puasa Saumul Umum yaitu jenis puasa hanya menahan lapar dan kemaluan, puasa jenis ini merupakan jenis puasa yang paling rendah kedudukannya. Kedua, Saumul Khusus yang melaksakanan puasa adalah seluruh anggota tubunya, menahan lapar, kemaluan, tangan, kaki dan sebagainya. Ketiga, Saumul Mukarrabin ini merupakan puasa paling tinggi kedudukannya karena selain dilakukan dengan menahan lapar dan seluruh anggota tubuh, puasa juga dilakukan dengan hati. "Banyak sekali ujian-ujian dalam berpuasa, misalnya kita berpuasa dengan yang halal tapi berbukanya dengan yang haram karena kita mencaci, berbohong, berbuka secara berlebihan dan sifat buruk lainnya. Istilahnya sama dengan kita mebangun istana denan menghancurkan seluruh masyarakat," ungkapnya memberikan contoh. Menurutnya, jika berpuasa dengan hati maka akan terasa kedekatan dengan Allah, untuk itu sebelum menjalankan puasa tanamkan dalam diri bahwa dosa kita sudah banyak, anggap puasa yang dilaksanakan adalah puasa terakhir dan belum tentu bertemu dengan puasa tahun depan, sambut ramadhan dengan keyakinan bahwa kita dekat dengan neraka. "Jangan isi puasa dengan hanya tidur-tiduran, karena ini sama dengan puasa yang tidak beradab. Tapi isilah dengan memperbanyak amalan," tutupnya. (msd)