Bengkalis (Kemenag) -
Mengisi sesi kedua dalam kegiatan Bimbingan Keluarga Sakinah di Aula Balai
Penyuluhan KB Desa Kuala Alam, Ramlan, S.Pd.I tampil memikat dengan gaya
khasnya yang ramah, penuh senyum, dan diselingi humor segar serta pantun yang
membuat suasana menjadi hidup dan hangat Kamis, 07/08/2025.
Dengan topik “Cinta, Nafkah,
dan Amanah: Pilar Rumah Tangga Islami”, Ramlan mengajak para peserta untuk
kembali menata niat dan komitmen dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Ia
menjelaskan bahwa cinta dalam pernikahan harus terus dirawat dengan komunikasi
yang jujur, saling menghargai, serta memenuhi hak dan kewajiban satu sama lain.
“Cinta itu seperti tanaman,
kalau tidak disiram dengan perhatian dan kasih sayang, lama-lama bisa layu,”
ucapnya, disambut senyum para peserta.
Dalam materi tersebut,
Ramlan juga menyoroti pentingnya keadilan dalam pembagian peran dan tanggung
jawab dalam rumah tangga. Ia menegaskan bahwa pekerjaan rumah tangga bukan
semata-mata tugas istri. Suami pun tidak hina jika membantu membersihkan rumah,
mencuci pakaian, memasak, dan melakukan pekerjaan domestik lainnya.
“Jangan saling
tunggu-menunggu. Kalau lantai kotor, tak perlu nunggu istri pulang baru disapu.
Kalau piring kotor, suami boleh kok cuci sendiri. Ini bukan soal derajat, tapi
soal cinta dan amanah,” tegasnya dengan gaya santai tapi berbobot.
Ustadz Ramlan memang sudah
dikenal luas sebagai “Ustadz Pantun” di kalangan masyarakat. Setiap ceramah dan
penyuluhannya selalu dihiasi dengan pantun-pantun segar yang sarat makna. Gaya
penyampaiannya yang ringan namun menyentuh, membuat siapa pun betah duduk
berlama-lama mendengar nasihatnya. Tak heran, para peserta tak tampak bosan,
justru terlihat antusias dan bersemangat selama sesi berlangsung.
Salah satu pantun jenaka khas
Melayu Bengkalis yang dilontarkannya bahkan membuat peserta tertawa lepas,
namun tetap sarat pesan moral:
"Menetek ae liyo nengok bini orang,
Menetek ae mato menengok bini awak."
Dengan pantun ini, Ustadz
Ramlan menyelipkan pesan agar para suami tidak melirik ke luar rumah, tetapi
belajar menghargai dan mencintai istri sendiri. Sambil tertawa, para peserta
menyadari bahwa pesan rumah tangga kadang lebih mengena saat disampaikan dengan
bahasa daerah yang dekat di hati. (EG)