Riau (Kemenag)- Deru ombak Sungai Siak mengalir dari hulu hingga muara, membawa cerita panjang tanah yang disebut Bumi Lancang Kuning. Di usia ke-68 tahun, Provinsi Riau tak sekadar menandai perjalanan administratif sejak diresmikan pada 9 Agustus 1957, tetapi juga mengukuhkan identitasnya sebagai daerah yang berakar kuat pada budaya Melayu-Islami.
Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kanwil Kemenag Riau, Ny. Tina Mailinda Muliardi, menyebut peringatan hari jadi ini adalah saat yang tepat untuk mengingat kembali sejarah, memahami jati diri, dan meneguhkan komitmen menjaga warisan leluhur dengan mengikuti peringatan puncak hari jadi Riau, Sabtu (9/8/2025) di Halaman Kantor Gubenur Riau.
“Riau lahir dari semangat persatuan dan aspirasi rakyat yang ingin membentuk provinsi sendiri. Semangat itu tidak hanya untuk membangun pemerintahan, tetapi juga untuk memelihara nilai, marwah, dan adat yang telah lama menjadi penopang kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Jejak Sejarah Pembentukan Provinsi Riau
Sebelum berdiri sebagai provinsi, wilayah Riau berada di bawah Provinsi Sumatera Tengah. Namun, pada pertengahan 1950-an, aspirasi masyarakat untuk berdiri sendiri semakin menguat, didorong oleh keinginan mengelola potensi daerah dan menjaga identitas Melayu yang khas. Pada 9 Agustus 1957, Pemerintah RI secara resmi menetapkan pembentukan Provinsi Riau melalui Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1957.
Awalnya, ibukota Provinsi Riau berada di Tanjung Pinang. Namun, pada 1960, pusat pemerintahan dipindahkan ke Pekanbaru, kota yang kala itu mulai berkembang sebagai simpul perdagangan dan jalur strategis penghubung Sumatera bagian tengah.
Budaya Melayu yang Bernafaskan Islam
Bagi masyarakat Riau, budaya Melayu tak dapat dipisahkan dari ajaran Islam. Sejak berabad-abad lalu, masuknya Islam melalui jalur perdagangan, dakwah ulama, dan kesultanan menjadikan agama ini sebagai nafas kehidupan sehari-hari. Ungkapan adat “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah” menjadi falsafah yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.
Ny. Tina menekankan bahwa akar budaya inilah yang menjadi modal sosial berharga untuk membangun Riau di era modern.
“Di Riau, nilai-nilai Islam terjalin rapi dengan adat Melayu—dari bahasa, seni, pakaian, hingga tata cara berinteraksi. Kehalusan budi, sopan santun, dan musyawarah bukan sekadar etiket, tetapi ajaran yang diwariskan turun-temurun,” jelasnya.
Ia mencontohkan seni Zapin dan Makyong Melayu, yang bukan hanya hiburan tetapi sarana dakwah dan pendidikan moral. Demikian pula syair-syair gurindam dan pantun, yang mengajarkan hikmah melalui bahasa indah.
“Ketika kita bicara ‘merawat tuah’, itu berarti menjaga kearifan ini agar tidak luntur. ‘Menjaga marwah’ artinya mempertahankan kehormatan diri dan daerah di tengah perubahan zaman,” tambahnya.
Perempuan dan Peran Moderasi Beragama
Dalam perspektif DWP Kanwil Kemenag Riau, perempuan memiliki posisi strategis dalam menjaga nilai-nilai ini. Dari rumah tangga, nilai Islam dan adat ditanamkan melalui pola asuh, teladan, dan pendidikan informal.
“Perempuan itu penjaga kehangatan rumah. Di situlah nilai agama dan adat Melayu dipraktikkan setiap hari. Ketika keluarga kuat, masyarakat pun kokoh,” ujar Ny. Tina.
Melalui berbagai program DWP, seperti penguatan literasi keluarga, pembinaan UMKM berbasis kearifan lokal, dan pelatihan etika komunikasi digital, Ny. Tina berupaya agar nilai-nilai Melayu-Islami tetap relevan dan membumi di generasi muda.
Doa dan Harapan untuk Riau
Mengakhiri perbincangan, Ny. Tina menyampaikan doa untuk Riau: “Semoga Riau terus maju dengan berkat dan rahmat Allah SWT. Semoga kita semua mampu menjaga tuah yang diwariskan leluhur dan mempertahankan marwah yang menjadi identitas kita. Riau hebat bukan hanya karena kekayaan alamnya, tetapi karena keluhuran budi masyarakatnya.”
68 tahun Provinsi Riau adalah perjalanan panjang yang dipenuhi kerja keras, kearifan, dan doa. Di tengah arus globalisasi, menjaga budaya Melayu-Islami bukan berarti menolak kemajuan, melainkan memastikan setiap langkah maju tetap berpijak pada akar yang kokoh. Dan di sanalah, DWP Kanwil Kemenag Riau terus berperan—menguatkan keluarga, membangun masyarakat, dan merawat nilai yang membuat Riau tetap tegak dalam martabatnya. (*)