0 menit baca 0 %

Santri Pondok Pesantren At Taufiq Petapahan Dibimbing untuk Melaksanakan Shalat Dhuha Rutin

Ringkasan: Kampar ( Kemenag )--Dalam rangka meningkatkan ruhiyyah dan kedisiplinan ibadah, santri Pondok Pesantren At Taufiq Petapahan, Tapung, rutin melaksanakan shalat sunnah Dhuha setiap hari. Kegiatan ini dibimbing oleh Ustaz Fairuz dan Aditia selaku musyrif di asrama ikhwan, serta Ustazah Elsa di asrama a...

Kampar ( Kemenag )--Dalam rangka meningkatkan ruhiyyah dan kedisiplinan ibadah, santri Pondok Pesantren At Taufiq Petapahan, Tapung, rutin melaksanakan shalat sunnah Dhuha setiap hari. Kegiatan ini dibimbing oleh Ustaz Fairuz dan Aditia selaku musyrif di asrama ikhwan, serta Ustazah Elsa di asrama akhawat.

Shalat Dhuha merupakan ibadah sunnah yang memiliki banyak keutamaan. Waktunya dimulai setelah matahari meninggi hingga mendekati waktu zawal (menjelang Zhuhur). Shalat ini juga disebut Subhah adh-Dhuha. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW berwasiat kepada Abu Hurairah untuk menjaga shalat Dhuha, sebagaimana sabdanya:

"Kekasihku SAW mewasiatkan kepadaku tiga hal, yaitu puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat shalat Dhuha, dan shalat Witir sebelum tidur."

Sebelum pelaksanaan shalat Dhuha, para musyrif terlebih dahulu menyampaikan hadis-hadis Rasulullah SAW tentang keutamaan shalat Dhuha. Di antaranya:

  1. Hadis riwayat Muslim:
    “Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada kebaikan) dan nahi mungkar (mencegah kemungkaran) adalah sedekah. Semua itu bisa dicukupi dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat.”

  2. Hadis riwayat Tirmidzi:
    "Barang siapa shalat Dhuha sebanyak dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan sebuah istana di surga.”

Sejak didirikan oleh Buya Abdul Jalil Ja'far pada tahun 1410 H/1990 M di Desa Petapahan, Kecamatan Tapung, Pondok Pesantren At Taufiq telah membiasakan santrinya untuk melaksanakan shalat Dhuha setiap hari. Tradisi ini terus berlanjut hingga kini, di bawah kepemimpinan Ustaz Muhammad Syamlawi, Lc, MA. Pondok Pesantren At Taufiq saat ini menyelenggarakan pendidikan tingkat MTs dan MA, dengan bimbingan dari pengawas pendamping Bapak H. Ismail, S.Ag, M.Pd.

Dengan adanya pembiasaan shalat Dhuha ini, diharapkan santri tidak hanya mendapatkan manfaat spiritual, tetapi juga membentuk karakter disiplin dan kecintaan terhadap ibadah. ( Fatmi/Alf)