Indragiri Hulu (Kemenag) Senin
pagi, 01 September 2025, udara di Kampung Sumbermulya RT 02 RW 03, Desa
Petaling Jaya, Kecamatan Batang Cenaku, terasa begitu sejuk. Suasana itu
semakin khidmat ketika Mushola Miftahush-Sholihiin menggelar pengajian
perdananya. Meski sederhana, kegiatan yang dimulai pukul 09.30 WIB ini dihadiri
jamaah dengan penuh semangat dan antusiasme.
Acara pengajian dibuka dengan
lantunan tadarus Al-Qur an yang tidak hanya dibaca, tetapi juga diikuti dengan
pemahaman makna ayat demi ayat. Menurut panitia, hal ini dimaksudkan agar
jamaah tidak hanya fasih membaca, melainkan juga mampu meresapi kandungan
Al-Qur an dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Qur an itu bukan hanya untuk
dibaca, tapi juga untuk dipahami. Dari situlah iman kita bisa tumbuh semakin
kuat, ungkap salah seorang jamaah yang turut hadir.
Usai tadarus, giliran Staf KUA Batang
Cenaku, Agan Aliyudin, menyampaikan tausyiah dengan tema Mengapa Syaithon
Membenci Rumah Tangga. Dengan tutur kata yang lembut namun tegas, ia
menjelaskan bahwa kehidupan rumah tangga memiliki posisi istimewa dalam Islam.
Syaithon tidak begitu benci kepada
orang yang sholat, karena waktunya singkat hanya lima kali sehari. Ia juga
tidak terlalu benci kepada orang yang berpuasa, sebab hanya dilakukan sebulan
dalam setahun. Bahkan, ia tidak begitu benci kepada orang yang bersedekah,
karena itu bergantung pada rezeki dan niat, jelas Agan Aliyudin.
Tetapi, syaithon sangat membenci
orang yang berumah tangga. Sebab dalam rumah tangga terkandung begitu banyak
ibadah: hubungan suami-istri, mendidik anak, bekerja untuk keluarga, menjaga
keharmonisan, semuanya bernilai pahala. Inilah yang membuat syaithon begitu
membencinya, tambahnya.
Pesan itu membuat jamaah terdiam
dalam renungan. Beberapa di antara mereka mengangguk pelan, seakan menemukan
kembali kesadaran bahwa rumah tangga adalah ladang amal yang tidak boleh
disepelekan.
Acara tidak berhenti pada tausyiah.
Jamaah juga diberi kesempatan untuk bertanya langsung terkait persoalan
kehidupan rumah tangga, mulai dari pendidikan anak, peran suami-istri, hingga
bagaimana menjaga keharmonisan di tengah kesibukan. Suasana interaktif itu
menciptakan kedekatan antara narasumber dan jamaah.
Kadang kita terlalu sibuk bekerja,
sampai lupa bahwa sekadar senyum kepada keluarga pun bernilai ibadah. Pengajian
seperti ini membuat saya tersadar, ujar seorang bapak jamaah usai sesi tanya
jawab.
Pengajian ditutup dengan doa yang
dipimpin oleh M. Solihin, Penyuluh Agama Islam (PAI) Kecamatan Batang Cenaku.
Dalam doanya, ia memohon agar seluruh jamaah senantiasa diberi kekuatan untuk
menjaga keimanan, keharmonisan rumah tangga, serta dijauhkan dari godaan
syaithon.
Pengajian perdana Mushola
Miftahush-Sholihiin ini bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan juga tonggak
awal bagi kegiatan keagamaan di lingkungan Kampung Sumbermulya. Harapannya,
mushola ini ke depan bisa menjadi pusat dakwah sekaligus wadah pembinaan umat,
terutama dalam memperkuat nilai-nilai keluarga Islami.
Insya Allah, pengajian ini akan
rutin diadakan. Semoga membawa keberkahan bagi kita semua, tutur salah satu
tokoh masyarakat setempat.
Dengan semangat jamaah dan pesan penuh makna yang tersampaikan, pengajian perdana ini menjadi bukti bahwa dari sebuah mushola kecil, cahaya hikmah dan doa bisa menyinari hati masyarakat, menumbuhkan iman, serta mengokohkan rumah tangga sebagai benteng utama menghadapi godaan zaman.
(Agan Aliyudin - Reski)