0 menit baca 0 %

Sentuhan Humanis Petugas Haji Inhil: Layani Lansia dengan Hati Sebelum Bertolak ke Tanah Suci

Ringkasan: Batam (Kemenag) - Dedikasi dan kepedulian petugas haji dalam melayani tamu Allah, terutama jamaah lansia, tercermin dalam momen mengharukan sebelum keberangkatan Kloter 7 asal Indragiri Hilir. H. Guspiandi, seorang Pembimbing Ibadah Haji Daerah (PHD) yang juga menjabat sebagai Kasi Penyelenggara Haj...

Batam (Kemenag) - Dedikasi dan kepedulian petugas haji dalam melayani tamu Allah, terutama jamaah lansia, tercermin dalam momen mengharukan sebelum keberangkatan Kloter 7 asal Indragiri Hilir. H. Guspiandi, seorang Pembimbing Ibadah Haji Daerah (PHD) yang juga menjabat sebagai Kasi Penyelenggara Haji dan Umrah Kantor Kemenag Inhil, menunjukkan sentuhan humanisnya dengan membantu seorang jamaah lansia sarapan pagi.

Pagi itu, di Asrama Haji Batam, di tengah kesibukan persiapan acara pelepasan dan keberangkatan menuju Arab Saudi , H. Guspiandi meluangkan waktunya untuk mendampingi dan menyuapi sarapan kepada Parngadi bin Wakirun Jokarto, seorang jamaah prioritas lansia berusia 82 tahun asal Kempas. Tindakan tulus ini menjadi gambaran nyata komitmen petugas haji dalam memberikan pelayanan terbaik, khususnya kepada para jamaah yang membutuhkan perhatian lebih.

Momen ini terekam dan menjadi inspirasi bagi banyak pihak. H. Guspiandi, yang mendapat amanah sebagai PHD pada musim haji tahun ini, tidak hanya bertugas membimbing ibadah secara formal, tetapi juga hadir sebagai sosok yang peduli dan sigap membantu kebutuhan para jamaah, terutama yang berusia lanjut.

"Melayani tamu Allah adalah kehormatan bagi kami. Terlebih kepada para lansia, kami berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan selama mereka menjalankan ibadah haji," ujar H. Guspiandi dengan penuh ketulusan.

"Melihat Bapak Parngadi dapat sarapan dengan baik sebelum perjalanan jauh ini tentu memberikan ketenangan tersendiri bagi saya,” tambahnya.

Tindakan H. Guspiandi ini sejalan dengan arahan Kementerian Agama untuk memberikan perhatian khusus kepada jamaah haji lansia. Kehadiran petugas haji yang responsif dan penuh empati diharapkan dapat membantu para lansia menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk dan lancar.

Kisah H. Guspiandi menjadi cerminan bahwa tugas melayani tamu Allah bukan hanya sekadar formalitas, tetapi juga panggilan hati untuk memberikan yang terbaik, memastikan setiap jamaah, tanpa terkecuali, merasa terbantu dan terperhatikan dalam perjalanan spiritual mereka menuju Baitullah. Perhatian kecil namun penuh makna ini tentu akan menjadi bekal semangat bagi Bapak Parngadi dan seluruh jamaah lansia lainnya dalam menunaikan ibadah haji. (Ria)