Sosok Muhammad SAW Sumber Inspirasi Keilmuwan
Ringkasan:
Pekanbaru (Humas)- Dalam ceramah Maulid Nabi Muhammad saw 1432 H di hadapan para karyawan di aula mini Kanwil Kementerian Agama Provinsi Riau, Senin pagi (14/2), Kakanwil Kemenag Riau Drs. H. Asyari Nur SH MM menguraikan beberapa hikmah Maulidurrasul.
Pekanbaru (Humas)- Dalam ceramah Maulid Nabi Muhammad saw 1432 H di hadapan para karyawan di aula mini Kanwil Kementerian Agama Provinsi Riau, Senin pagi (14/2), Kakanwil Kemenag Riau Drs. H. Asyari Nur SH MM menguraikan beberapa hikmah Maulidurrasul. Di antara yang terpenting adalah sosok Rasulullah menjadi sumber inspirasi dan kajian mendalam para pakar keilmuwan baik dari kalangan muslim maupun non muslim, dunia Barat maupun Timur.
"Banyak ilmuwan yang lahir justru karena mempelajari dan mengkaji perjalanan hidup Muhammad saw, baik itu secara akademis dengan lahirnya para doktor dari Islam maupun non Islam, maupun kajian Islam klasik melalui kitab-kitab karangan ulama terdahulu. Nabi saw merupakan sumber ilmu yang tak habis-habisnya dan senantiasa abadi namanya sepanjang zaman sebagai figur pemimpin teladan dan pembimbing akhlak manusia, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur`an: "Sungguh pada diri Rasul terdapat teladan yang baik" dan dalam hadits berbunyi: "Sesungguhnya aku diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak manusia".
"Kepemimpinan beliau selalu menjadi bahan perbandingan dan rujukan terhadap kepemimpinan dewasa ini. Justru oleh karena itu para pemimpin masa kini hendaknya bercermin kepada leadership yang diwariskan oleh Rasulullah saw" urai Asyari yang kini sedang menyelesaikan kuliah doktoral Hukum Islam di UIN SUSKA Riau ini.
Dalam rangka memperingati Maulid Rasulullah saw itu, Kakanwil mengingatkan karyawan bahwa dengan adanya acara yang dilaksanakan tersebut akan meningkatkan kejernihan dan pemahaman aparatur khususnya pegawai Kemenag Riau dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan senantiasa mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya dalam rangka meningkatkan kualitas diri dan akhlak. Hal ini mestilah dimulai dari masing-masing diri pribadi.
"Aparatur pemerintah perlu memperhatikan secara serius masalah moral ini. Di dunia Barat standar moral menjadi acuan dalam sistem pemerintahan dan dunia bisnis. Seseorang misalnya akan terhalang mendapatkan suatu proyek apabila namanya pernah masuk daftar hitam kontraktor nakal. Jadi kualifikasi kelayakan mengikuti/mendapatkan proyek sangat ditentukan oleh komitmen, kredibilitas, kepercayaan, dan moral seseorang. Inilah yang selama ini tidak pernah atau kurang diterapkan di Indonesia".
"Setakat ini konsep akhlak masih di tataran formalitas, normatif, dan retorika. Hanya diomongkan, diceramahkan, dan sekedar bahan diskusi, seminar, dan sebagainya. Padahal sesungguhnya akhlak itu bersifat aktual, praktek dan pengamalan sehari-hari. Justru oleh karena itu dalam sebuah negara, sistem, tatanan, dan budaya masyarakat sangat menentukan kualitas moral suatu bangsa. Bangsa yang bermarwah tinggi adalah bangsa yang menjunjung nilai-nilai moral dan agama. Apabila akhlaknya rusak, maka hancurlah bangsa tersebut", jelasnya.