Kuansing (Kemenag) - Di tengah semarak pacu jalur yang masih terasa di Kuantan Singingi, jajaran Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kuansing tetap mengutamakan pelayanan publik. Jumat (22/08/2025), pegawai dari berbagai seksi terlihat melayani masyarakat dengan ramah melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) meski suasana kota masih dipenuhi euforia budaya tahunan tersebut.
Pelayanan yang diberikan meliputi informasi pendidikan agama, pendidikan keagamaan Islam, hingga keperluan administrasi lainnya. Pegawai Seksi Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Islam, Rosdianti, menyebutkan bahwa masyarakat tetap membutuhkan pelayanan meskipun suasana WFH dibeberapa instansi dan pesta rakyat belum sepenuhnya usai.
“Kami ingin memastikan pelayanan berjalan normal. Walaupun masyarakat masih merayakan pacu jalur, kebutuhan administrasi tetap harus kami penuhi dengan baik,” ujar Rosdianti di ruang PTSP, Jumat siang. Ucapan ini menunjukkan komitmen pegawai Kemenag Kuansing dalam memberikan layanan tanpa terhenti momentum budaya.
Selain Rosdianti, pegawai dari seksi lain juga turut membantu. Hal ini dilakukan agar masyarakat yang datang tidak menunggu lama. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa sinergi antarpegawai penting dalam menjaga kualitas layanan publik. Apalagi di momen festival, arus kunjungan warga seringkali meningkat.
Kepala Seksi PAPKIS, Burdianto, juga menegaskan bahwa pelayanan adalah prioritas utama. “Kami ingin masyarakat merasa terbantu. Jadi, meski suasana pacu jalur masih terasa, pelayanan tidak boleh kendur,” ungkapnya. Ia berharap, sikap ini bisa menumbuhkan kepercayaan publik terhadap kinerja Kemenag Kuansing.
Suasana PTSP di hari itu terpantau normal, namun tetap tertib. Beberapa warga tampak antusias karena bisa langsung mendapatkan informasi dan solusi atas kebutuhan administrasi. Kehadiran pegawai yang sigap memberikan jawaban menambah kenyamanan masyarakat untuk tetap datang ke kantor meski di tengah hiruk-pikuk perayaan daerah.
Dengan tetap berjalannya pelayanan di tengah nuansa budaya, Kementerian Agama Kuansing berhasil menunjukkan keseimbangan antara tradisi dan tanggung jawab birokrasi. Hal ini menjadi contoh nyata bagaimana instansi pemerintah dapat mengharmonikan pelayanan publik dengan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat. (YZG)