Pekanbaru (Inmas), Merespon apa yang disampaikan oleh H.
Abdul Wahid dalam kisah Emas Vs Lumpur, H. Suhardi Hasan berpendapat sebagai berikut. Sabtu (09/01/21)
Sampai hari ini masih banyak terhunjam di diri kita
sifat Emas. Ada yang menganggap bahwa mengkilapnya dirinya, berharganya dirinya,
terhormatnya dirinya, membuat orang lain di mata Emas bagai lumpur semua.
Reteh, remeh dan leceh.
Padahal, bila Emas itu berpikir, justru karena lumpur
yang leceh dan remeh itulah dia bisa berkilap dan mengkilap, bercahaya dan di
pandang banyak orang.
Ini memang sebuah Narasi korektif dan inspiratif untuk
semua kita. Saling mengingatkan. Dan menghindarkan ungkapkan "Kalau bukan
karena saya" si anu itu tidak akan bisa apa-apa. Dan tidak akan menjadi
apa-apa. Semuanya se-akan tergantung pada nilai Emas-nya. Padahal, Emas itu
tidak bisa menumbuhkan apa-apa.
Sementara lumpur bisa banyak menumbuhkan apa-apa.
Kuburkan sifat keangkuhan Emas itu dalam-dalam. Mari...berikan ungkapkan Narasi
konstruktif terhadap lumpur, jauhkan meremeh dan melecehkan, karena dia bisa
membuat kita tumbuh subur, besar, berdahan, berbuah serta tumbuh lebih tinggi.
Bahkan terhormat jauh lebih berharga dari Emas. (Idris/ Bustamar)