Pekanbaru (Inmas), Melalui Program ONE DAY ONE HADITS, Kali ini Kasi PHU
Kemenag Pekanbaru sampaikan hadits tentang : SYARAT MENDAPATKAN MANISNYA
IMAN . Sabtu (03/10/2020).
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu , dari Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,
??????? ???? ????? ?????? ?????? ??????? ????????? ????????????? ???? ?????
????? ???????????? ??????? ???????? ?????? ?????????? ?????? ???????? ?????????
??? ????????? ?????? ?????? ?????? ????????
???? ???????? ???? ????????? ?????? ???? ?????????? ????? ??????? ????? ????????
???? ???????? ???? ????????.
Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka
ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) barangsiapa yang Allâh dan
Rasûl-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, (2) apabila ia mencintai
seseorang, ia hanya mencintainya karena Allâh. (3) Ia benci untuk kembali
kepada kekufuran setelah Allâh menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk
dilemparkan ke dalam Neraka. Al-Bukhari (no. 16),Muslim (no. 43)
Kandungan hadits
1. Makna manisnya iman adalah kelezatan dalam melakukan ketaatan dan
berani menanggung beban berat ketika menjalankan agama, serta lebih
mengutamakan agama daripada dunia. Cinta hamba kepada Allâh dapat terwujud
dengan mengerjakan ketaatan dan menjauhi maksiat.
2. Orang yang sehat hatinya akan merasakan bahwa dengan menggenggam iman
terasa damai dan bahagia. Ilustrasi nya seperti
antara orang yang sakit dengan orang yang sehat. Orang yang sedang sakit
akan merasa semua makanan pahit bahkan tidak ada rasa.
3. Kecintaan manusia kepada Allâh dan Rasûl-Nya wajib didahulukan
daripada semua kecintaan manusia kepada apa saja.
4. Mengikuti Rasûl itu membuahkan dua cinta, cinta hamba kepada Allâh
dan cinta Allâh kepada hamba.
5. Setiap orang yang mengaku mencintai Allâh Azza wa Jalla namun tidak
mau menempuh jalan Rasûlullâh SAW, maka orang itu telah berdusta dalam
pengakuannya tersebut sampai ia mengikuti syari at dan agama yang dibawa
Rasûlullâh.
6. Tolok ukur orang beriman dalam menjalani kehidupan ini adalah mencari
ridha Allâh, bukan karena standar keduniawian. Tulis Suhardi. (Idris/
Bustamar).