0 menit baca 0 %

Suhelmon Ajak Santri Ponpes KH. Ahmad Dahlan Sadari Peran dan Tanggung Jawab Diri

Ringkasan: Kuansing (Kemenag) Di tengah barisan rapi para santri Pondok Pesantren KH. Ahmad Dahlan, Senin (17/11/2025), Kepala Kementerian Agama Kuantan Singingi Suhelmon tampil sebagai pembina upacara dengan penyampaian amanat yang langsung menembus inti persoalan yakni pentingnya memahami peran diri dan tang...

Kuansing (Kemenag) Di tengah barisan rapi para santri Pondok Pesantren KH. Ahmad Dahlan, Senin (17/11/2025), Kepala Kementerian Agama Kuantan Singingi Suhelmon tampil sebagai pembina upacara dengan penyampaian amanat yang langsung menembus inti persoalan yakni pentingnya memahami peran diri dan tanggung jawab personal sejak dini. Dari sudut pandang Kemenag Kuansing, momen ini menjadi ruang pembinaan yang tidak hanya bersifat formalitas, tetapi benar-benar menyentuh jantung pendidikan karakter.

Dalam amanatnya, Suhelmon menyampaikan pesan moral yang kuat dan penuh muatan refleksi. Ia mengingatkan para santri bahwa setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban sesuai peran yang dijalankan. โ€œGuru tidak akan dihisab sebagai santri, dan santri tidak akan dihisab sebagai guru. Maka jangan sia-siakan kesempatan yang kalian miliki. Pesantren telah memberi fasilitas, lingkungan, dan pembinaan yang memadai. Manfaatkanlah itu semua,โ€ ucapnya.

Menggunakan analogi yang mudah dipahami namun sarat makna, ia membandingkan manusia dengan pisau yang terus diasah. Asahan itu ibarat ilmu, latihan, pembinaan, dan disiplin yang menjadikan manusia semakin tajam, bernilai, dan dijaga. โ€œIbarat pisau yang terus diasah hingga tajam, ia akan dijaga dan dihargai. Begitulah manusia, ketika ia ditempa oleh ilmu dan disiplin, masyarakat akan menjaganya, mempercayainya, dan mengharapkannya,โ€ tambahnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa proses pendidikan di pesantren bukan sekadar rutinitas belajar. Ini merupakan proses pembentukan jati diri, membangun kedewasaan, serta mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan moral dan sosial ke depan. Para santri diajak untuk melihat lingkungan pesantren sebagai peluang emas yang tidak dimiliki semua orang.