0 menit baca 0 %

Syafwan Hadiri Program Kanwil Kemenag Riau, Fokus pada Pencegahan Konflik Keagamaan

Ringkasan: Pelalawan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pelalawan, Syafwan, menghadiri acara pembukaan Workshop Temu Konsultasi Pencegahan Konflik Paham Keagamaan Islam yang digelar di Hotel Dika Raya, Selasa (19/08/2025). Hadir dalam kesempatan tersebut, Kabid Urais Kanwil Kemenag Riau M.

Pelalawan – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pelalawan, Syafwan, menghadiri acara pembukaan Workshop Temu Konsultasi Pencegahan Konflik Paham Keagamaan Islam yang digelar di Hotel Dika Raya, Selasa (19/08/2025). Hadir dalam kesempatan tersebut, Kabid Urais Kanwil Kemenag Riau M. Fakhri, para staf Urais Kanwil Riau, Kasi Bimas Islam Kabupaten Pelalawan Iswadi M. Yazid, perwakilan Kepala KUA se-Kabupaten Pelalawan, penyuluh agama Islam, perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam, serta perwakilan Kasi Bimas dari daerah se-Riau. Kehadiran para tokoh lintas unsur ini semakin menegaskan bahwa kerja sama dan sinergi antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat sangat penting dalam menjaga kerukunan dan mencegah terjadinya konflik pemahaman keagamaan.


Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembukaan oleh pembawa acara yaitu Sinta Elvita Bella, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipimpin penuh semangat, serta pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ashabul Yamin yang menambah suasana khidmat. Selanjutnya, Chairul Hasani selaku Ketua Panitia menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Kemenag Pelalawan, Syafwan, sebelum akhirnya dibuka secara resmi oleh Kakanwil Kemenag Riau, Muliardi. Acara strategis ini dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Riau, Muliardi, dengan mengusung tema “Merawat Kebersamaan, Meneguhkan Moderasi Beragama di Tengah Keberagaman.” Tema tersebut dipilih untuk mempertegas komitmen Kementerian Agama dalam membangun suasana kehidupan beragama yang damai, toleran, serta saling menghargai di tengah masyarakat yang majemuk.


Dalam sambutannya, Syafwan menyampaikan ucapan selamat datang dan apresiasi kepada seluruh peserta yang hadir. Ia menekankan bahwa menjaga kerukunan adalah tanggung jawab bersama, terlebih di wilayah Kabupaten Pelalawan yang dikenal sebagai daerah heterogen. “Kabupaten Pelalawan berada di jalur lintas timur yang sangat strategis, sehingga penguatan kerukunan dan pencegahan konflik harus dilakukan secara berkesinambungan. Kehidupan masyarakat yang damai, rukun, dan harmonis akan menjadi modal penting dalam membangun daerah kita,” ujarnya. Sementara itu, Muliardi dalam arahannya menyoroti pentingnya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap peran Kantor Urusan Agama (KUA). Ia menegaskan bahwa masyarakat masih sering memandang peran penghulu dan penyuluh hanya sebatas pelaksana akad nikah, padahal KUA memiliki delapan tugas dan fungsi strategis. “Tugas KUA bukan hanya menikahkan. Ada fungsi pembinaan, pelayanan, hingga penyelesaian konflik keagamaan. KUA adalah ujung tombak Kementerian Agama yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, sehingga keberadaannya harus dimaksimalkan,” tegasnya.


Lebih lanjut, Muliardi menekankan pentingnya peran moderasi beragama dalam menjaga kebersamaan di tengah perbedaan. “Yang harus kita lakukan adalah merawat kebersamaan, memperkuat persaudaraan, dan meneguhkan moderasi beragama di tengah-tengah keberagaman. Jika hal ini kita jalankan dengan konsisten, maka potensi konflik dapat diminimalisir, dan kerukunan masyarakat dapat terjaga dengan baik” jelasnya. 


Kegiatan workshop ini diharapkan dapat memperkuat peran KUA, penyuluh agama, serta para tokoh masyarakat dalam membangun kesadaran bersama tentang pentingnya mencegah konflik sejak dini. Karena para tokoh agama dan juga KUA ini merupakan orang-orang yang sangat dekat dengan masyarakat sehingga jika ada tanda-tanda konflik maupun permasalahan maka mereka lah yang menjadi jangkauan tangan pemerintah yang terdekat dengan masyarakat yang diharapkan bisa menyelesaikan masalah yang ada dan juga mencegah terjadinya konflik yang akan muncul. Dengan adanya temu konsultasi ini, diharapkan lahir langkah-langkah konkret yang bisa diterapkan di tingkat daerah untuk menciptakan suasana masyarakat yang rukun, toleran, dan damai, khususnya di Kabupaten Pelalawan dan Provinsi Riau secara umum.(dbs)