0 menit baca 0 %

Takziah Keluarga Besar Kemenag Inhu: Sebuah Penguatan Silaturahmi di Tengah Duka

Ringkasan: Indragiri Hulu (Kemenag) Jumat, 19 September 2025 Suasana duka menyelimuti rumah sederhana di Kecamatan Peranap, tempat almarhum H. Murdas bin Salilillah berpulang ke rahmatullah. Almarhum adalah ayahanda Muhammad Ihsan, Kepala Seksi Bimas Islam Kankemenag Kabupaten Indragiri Hulu.

Indragiri Hulu (Kemenag) – Jumat, 19 September 2025 Suasana duka menyelimuti rumah sederhana di Kecamatan Peranap, tempat almarhum H. Murdas bin Salilillah berpulang ke rahmatullah. Almarhum adalah ayahanda Muhammad Ihsan, Kepala Seksi Bimas Islam Kankemenag Kabupaten Indragiri Hulu. Sejak Jumat pagi, halaman rumah tampak dipenuhi kerabat, tetangga, dan rekan sejawat yang datang mengucapkan belasungkawa.

Di antara para pelayat, hadir pula keluarga besar Kementerian Agama Inhu. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, melainkan tanda empati dan solidaritas yang kuat. Mereka datang bersama-sama, duduk bersila di lantai ruang tamu, ikut mendengarkan doa-doa yang dipanjatkan, dan memberikan dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan.

Bagi Ihsan, momen ini terasa begitu berharga. “Kehadiran teman-teman dari Kemenag menjadi penguat di saat kami sekeluarga sedang diuji. Ini lebih dari sekadar kedatangan, tapi juga energi persaudaraan yang membuat kami tegar,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Takziah ini seolah mengingatkan bahwa hubungan kerja di instansi pemerintah tidak hanya berhenti pada ruang kantor, melainkan berlanjut dalam wujud nyata kepedulian di tengah masyarakat. Nilai spiritual dan kekeluargaan menjadi pesan yang kuat: bahwa setiap kehilangan adalah ujian, tetapi juga momentum untuk mempererat silaturahmi.

Bagi masyarakat Peranap, peristiwa ini memberi teladan bahwa pejabat publik dapat hadir sebagai bagian dari komunitas, bukan sosok yang berjarak. Mereka hadir dengan hati, bukan hanya dengan atribut jabatan. Dampak langsungnya, masyarakat melihat bahwa institusi seperti Kemenag tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga menyatu dalam denyut kehidupan sosial dan religius warganya.

“Takziah ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa pada akhirnya yang tersisa adalah doa, kebersamaan, dan amal baik. Itulah warisan yang sebenarnya,” tutur seorang tokoh masyarakat setempat.

(Reski)