0 menit baca 0 %

Tausiah Halal bi Halal Kanwil Kemenag Riau: Aplikasikan Taqwa Dalam Pekerjaan

Ringkasan: Pekanbaru (Humas)- Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau menyelenggarakan acara Halal bi Halal yang dihadiri oleh Kakanwil, Kabag TU, Kabid dan Pembimas, para pejabat, staf dan pemenang lomba keluarga sakinah Teladan Terbaik Provinsi Riau 2010 di aula mini, Selasa (14/9).
Pekanbaru (Humas)- Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau menyelenggarakan acara Halal bi Halal yang dihadiri oleh Kakanwil, Kabag TU, Kabid dan Pembimas, para pejabat, staf dan pemenang lomba keluarga sakinah Teladan Terbaik Provinsi Riau 2010 di aula mini, Selasa (14/9). Kegiatan halal bi halal antara karyawan ini diisi pula oleh Tausiah Agama yang disampaikan oleh Kepala Bagian Tata Usaha Drs. H. Albakiran Balim sekaligus menyampaikan ceramah pembinaan pegawai bulanan. Dalam uraiannya Kabag TU menerangkan asal-usul halal bi halal yang hanya ada di Indonesia. "Secara historis acara halal bi halal sudah ada pada masa Jenderal Sudirman sekitar tahun 1947. Ketika itu beliau mempelopori acara saling bermaaafan yang kemudian disebut halal bi halal setelah meminta persetujuan dari Buya Hamka, dengan alasan ada diantara sikap dan perilakunya baik sengaja maupun tidak sengaja menyinggung para prajurit. Hal serupa mungkin juga terjadi di antara prajurit. Oleh karena itu momen setelah Idul Fitri bisa dijadikan ajang saling memaafkan", urainya. Selanjutnya Albakiran menguraikan asal kata Halal bi halal secara etimologis yang artinya meliputi antara lain menguraikan yang kusut, menjernihkan yang keruh, menghubungkan yang terputus, mendamaikan yang berselisih, dan sebagainya. "Dalam Islam sendiri secara tersirat semangat halal bi halal ini sudah dipraktekkan Rasulullah saw. Misalnya ketika Rasul menjenguk dan memaafkan seorang Yahudi yang selalu meludah beliau. Dalam suatu kesempatan seorang Quraisy bernama Da`tsur berhasil masuk Islam karena kelembutan dan sifat pemaaf Nabi saw. Begitu juga ketika Hindun seorang yang membunuh paman Nabi (Hamzah) diterima maafnya ketika masuk Islam. Karena itu walaupun tak ada satu negara Islampun di dunia ini yang mengadakan halal bi halal kecuali di Indonesia, tradisi seperti ini patut terus dilaksanakan" paparnya. Penceramah juga menekankan pentingnya para pegawai khususnya di lingkungan Kanwil Kemenag Riau untuk menerapkan taqwa yang diperoleh selama puasa Ramadhan terutama dalam manjalankan tugas sehari-hari. "Ada lima implementasi dan aplikasi taqwa dalam kehidupan kita, yaitu: melaksanakan tugas dan kewajiban dengan penuh tanggungjawab, memantapkan keyakinan dalam hati bahwa segala perbuatan manusia tidak pernah lepas dari pengawasan Allah swt, membentengi diri dari kemaksiatan, senantiasa siap sedia dalam menerima dan menjalankan perintah, mengetahui dan memahami segala ketentuan yang berlaku". (as)