Kampar (Kemenag) – Instrumen Akreditasi Perpustakaan Sekolah Menengah Pertama / Madrasah Tsanawiyah yang tertuang dalam SK Kepala Perpustakaan Nasional RI Nomor 301 Tahun 2022 telah menjadi perhatian oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kampar hari-hari ini.
Dalam rangka meningkatkan standarisasi perpustakaan tersebut, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kampar mengundang khusus kepada Kepala Kantor Kementerian Agama Kab.Kampar yang dalam hal ini diwakili oleh Pustakawan Liya Pitriani dalam acara sosialisasi Akreditasi Perpustakaan Khusus (Pondok Pesantren) dan Perpustakaan Sekolah (SLTP/MTs), yang dilaksanakan di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kampar Pada Rabu (24/07/2024).
Liya dalam sambutannya mengucapkan terimakasih dan apresiasi tinggi kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab.Kampar yang telah memberikan perhatian khusus kepada sekolah / madrasah yang khususnya berada di bawah naungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kampar seperti Pondok Pesantren ini.
“Di Kabupaten Kampar ini jumlah Pondok Pesantrennya merupakan yang terbanyak se-Provinsi Riau. Ada 114 Pondok Pesantren yang tersebar di seluruh Kampar, dan alhamdulillah hari ini kita sudah memulai gerak awal untuk memberikan dan mensosialisasikan akreditasi perpustakaan sekolah/madrasah ini terhadap Pondok Pesantren dalam kategori Perpustakaan Khusus” ungkap Liya.
Dari 114 Pondok Pesantren yang ada di Kab.Kampar, ada 25 yang dihadirkan untuk tahap awal ini. Terdiri dari 5 Pondok Pesantren yang telah terdaftar NPP, 3 masih menunggu status verifikasi, dan 16 belum terdaftar.
Selanjutnya selaku Kabid Pengembangan dan Pembinaan Perpustakaan sekaligus Ketua Panitia Pelaksana Bambang melaporkan bahwa kegiatan sosialisasi ini dilakukan dalam rangka menunjang aktivitas dan meningkatkan indeks pembangunan literasi masyarakat dalam tingkat kegemaran membaca. Untuk informasi, dari 1179 perpustakaan yang ada di Kab.Kampar, baru 20 yang memiliki akreditasi. Dan dari perpustakaan Pondok Pesantren belum ada yang terakreditasi.
Ada 445 perpustakaan yang telah terdaftar di sistem NPP (Nomor Pokok Perpustakaan), dan baru di angka 274 perpustakaan yang telah keluar NPP nya. Bambang mengharapkan kegiatan ini bisa menginformasikan kepada kepala sekolah atau pimpinan pondok untuk segera mendaftarkan perpustakaannya sehingga mendapatkan NPP tersebut.
“Manfaat akreditasi perpustakaan antar lain memfungsikan perpustakaan secara standar nasional, memberi kenyamanan sehingga akan meningkatkan keinginan membaca anak-anak kita. Peserta hari ini ada dari 25 Pondok Pesantren yakni terdiri dari Pimpinan Pondok dan Kepala/Pengelola pustaka. Sedangkan untuk narasumber kita menghadirkan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau dan pustakawan dilingkungan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab.Kampar” lapor Bambang.
Selain itu Bambang juga mengenalkan aplikasi E-Sakti dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab.Kampar. Aplikasi E-Sakti akan terafiiasi dengan Dinas, dan akan terpantau jumlah koleksi buku e-book nya. “Ini adalah salah satu inovasi untuk mempercepat dan mempermudah membaca buku” pungkas Bambang.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab.Kampar Yuli Usman berharap setelah kegiatan ini dilaksanakan, 25 pondok yang hadir bisa terdaftar di NPP sehingga bisa lanjut ke tahap pembinaan akreditasi. “Silahkan serap ilmu dari para narasumber kita, mereka adalah orang-orang yang berkompeten di bidang perpustakaan ini dan salah satunya dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau” ungkap Yuli.
Minimnya perpustakaan pondok pesantren yang sudah terdaftar di NPP merupakan tujuan dari kegiatan ini. Dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab.Kampar akan membantu seluruh peserta yang hadir untuk terdaftar di NPP terlebih dahulu sebelum nantinya akan dilanjutkan ke tahap pembinaan akreditasi.
“Karena jika sudah diakui lembaga resmi, artinya perpustakaan sudah memenuhi syarat untuk mewujudkan tujuan dan manfaat akreditasi, yakni memberikan kenyamanan dalam kebutuhan membaca dan mendapatkan informasi dari buku-buku koleksi perpustakaan bersangkutan, sehingga meningkatkan minat baca negara kita yang tergolong rendah” tutup Yuli. (Cicy/Fatmi/Agus)*