Tundukkan Hawa Nafsu Dengan Puasa
Ringkasan:
Kampar (Humas) – Hidup ini adalah perjuangan melawan hawa nafsu. Kadangkala kita menang dan kadangkala kita kalah melawan hawa nafsu syetan kita. Oleh karena itu, mari kita tundukkan hawa nafsu kita dengan berpuasa. Demikian salah satu poin yang disampaikan Abuya Drs H Muslilm dalam tausiyahn...
Kampar (Humas) – Hidup ini adalah perjuangan melawan hawa nafsu. Kadangkala kita menang dan kadangkala kita kalah melawan hawa nafsu syetan kita. Oleh karena itu, mari kita tundukkan hawa nafsu kita dengan berpuasa. Demikian salah satu poin yang disampaikan Abuya Drs H Muslilm dalam tausiyahnya Ba’da Sholat Zuhur di Musholla Miftahul ‘Ilmi Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar hari senen (22/07). Hadir dalam tausiyah tersebut Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar Drs H Fairus MA, Kepala Subbag Tata Usaha H Muhammad Hakam MAg, seluruh Kasi dan staf dilingkungan Kantor Kementerian Agama Kab. Kampar.
Abuya Muslim mengatakan, menurut Imam Ghazali ada tiga bentuk perlawanan manusia terhadap hawa nafsu ini. Yang pertama nafsu muthmainnah (nafsu yang tenang), yakni ketika iman menang melawan hawa nafsu, sehingga perbuatan manusia tersebut lebih banyak yang baik daripada yang buruk.
Yang kedua, nafsu lawwamah (nafsu yang gelisah dan menyesali dirinya sendiri), yakni ketika iman kadangkala menang dan kadangkala kalah melawan hawa nafsu, sehingga manusia tersebut perbuatan baiknya relatif seimbang dengan perbuatan buruknya. Dan Yang ketiga adalah nafsu la’ammaratu bissu’ (nafsu yang mengajak kepada keburukan), yakni ketika iman kalah dibandingkan dengan hawa nafsu, sehingga manusia tersebut lebih banyak berbuat yang buruk daripada yang baik.
Oleh karena itu, di bulan yang mulia ini mari kita jadikan nafsu yang ada pada diri kita nafsu muthmainnah, yang salah satu ciri orang yang ternasuk nafsu muthmainnah ini adalah segera sadar dan gelisah terhadap perbuatannya yang buruk. Walaupun ia melakukan perbuatan buruk yang kecil, tetapi sudah dianggapnya besar, sehingga ia selalu hati-hati dalam melangkah, Yang memiliki ‘sensifitas yang tinggi’ terhadap perbuatan dosa, yang hal ini merupakan ciri-ciri orang yang bertaqwa dan mudah-mudahan kita dapat meraihnya, tutupnya. (Ags)