Warga Pekanbaru Peringati Maulid Nabi SAW 1431 H di Masjid Agung Annur
Ringkasan:
Pekanbaru, 15/3 (Humas)- Warga kota Pekanbaru dari berbagai lapisan masyarakat memadati Masjid Agung Annur Pekanbaru guna memperingati Maulid Nabi Muhammad saw 1431 H, Sabtu (13/3). Acara yang ditaja oleh Panitia Peringatan Hari-hari Besar Islam Provinsi Riau dan Biro Kesra Pemprov Riau menghadirkan...
Pekanbaru, 15/3 (Humas)- Warga kota Pekanbaru dari berbagai lapisan masyarakat memadati Masjid Agung Annur Pekanbaru guna memperingati Maulid Nabi Muhammad saw 1431 H, Sabtu (13/3). Acara yang ditaja oleh Panitia Peringatan Hari-hari Besar Islam Provinsi Riau dan Biro Kesra Pemprov Riau menghadirkan penceramah kondang Kota Pekanbaru H. Mustafa Umar Lc, MA.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kakanwil Kemenag Riau, Asisten III Gubernur bidang pemerintahan, para pejabat dan pegawai di lingkungan Kanwil Kemenag Riau, Kantor Kemenag Kota Pekanbaru, Pemprov Riau, kalangan militer, guru dan siswa, anggota majlis taklim, serta masyarakat Pekanbaru.
Sebelum acara pokok uraian hikmah Maulid Nabi saw, Kakanwil Kemenag Provinsi Riau berkesempatan memberikan sambutan dan menyerahkan sejumlah bantuan kepada Majlis Taklim. Kakanwil menekankan pentingnya bersalawat kepada Rasulullah saw sebagai bentuk kecintaan kepada beliau dan yang lebih penting lagi adalah mencontoh perilakunya dalam segenap aspek kehidupan.
Sementara itu penceramah Maulid H. Mustafa Umar Lc, MA menguraikan hikmah Maulid dikaitkan dengan kondisi masa kini. Terutama bagi generasi muda agar berhati-hati dan arif memanfaatkan teknologi informasi misalnya jaringan pertemanan seperti facebook dan sebagainya. Menurut Mustafa banyak aspek kehidupan Rasulullah saw yang dapat dijadikan contoh misalnya dalam berdagang, menjadi pemimpin, bergaul dalam keluarga dan masyarakat, berpolitik yang santun meski terhadap lawan.
Dicontohkan bagaimana kejujuran Nabi saw yang digelari al-amin ketika di usia muda menjadi pedagang sehingga perniagaanya menjadi berkembang. Karena itu menjadi contoh lebih tinggi nilainya dari pada sekedar memberi contoh. Kalau menjadi contoh artinya segenap aspek sikap dan perilaku benar-benar bersumber dari keimanan dan tauhid yang mantap dalam sanubari. Sedangkan memberi contoh sifatnya tidak permanen karena ditimbulkan oleh posisi atau jabatan yang dimiliki seseorang. Kalau posisi tersebut sudah hilang maka ia tidak sanggup lagi mempertahankan keteladanannya.(as).