Rokan Hilir (Inmas) - Penyuluh Agama Islam Kemenag Rohil, Junaidi Dasrul,S.AP didaulat sebagai Narasumber 'Gema Muharam' yang diadakan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komsat STAI Arridho Bagansiapiapi, dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1445 H. Kegiatan dilaksanakan di Sekretariat PC PMII Kab. Rokan Hilir Jalan Bahagia, Sabtu (22/7/2023)
Pada kesempatan itu, Junaidi Dasrul menilai, PMII memiliki peran cukup penting menghalau paham konservatisme dan ekstremisme di kalangan anak muda. Dia mengatakan, hasil penelitian menyebutkan, tren ancaman konservatisme di kalangan milenial usia 15-24 sudah mengkhawatirkan.
“Tren konservatisme ini dicirikan dengan skriptural plus komunal yang juga menguat,” katanya.
Penyuluh yang giat melakukan bimbingan di kalangan remaja itu menambahkan, data lain dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menunjukkan fakta bahwa 59,1 persen pelaku terorisme berusia kurang dari 30 tahun. Kemudian, kalangan muda usia 17-24 tahun menjadi sasaran utama penyebaran paham ekstremisme.
“Survey BNPT tersebut juga menunjukan, 80 persen generasi muda rentan terpapar ekstremisme, karena cenderung tidak berpikir kritis. Umumnya generasi muda milenial ini, lebih cenderung menelan mentah-mentah, arus distribusi informasi dan ideologi. Karena sikap intoleran biasanya muncul, pada generasi yang tidak berpikir kritis. Ini menjadi sasaran empuk kelompok ekstrem,” ucap Junaidi.
Melihat data-data yang telah disebutkan, Junaidi mengingatkan PMII akan pentingnya penguatan moderasi beragama dalam pemahaman teks-teks keagamaan dan kehidupan sosial kalangan mahasiswa. Menurut dia, peran mahasiswa sangat penting sebagai katalisator mewujudkan Islam yang rahmatan lil 'alamin.
Lebih dari itu, pengarusutamaan moderasi beragama setidaknya dilandasi oleh tiga hal. Pertama, kehadiran agama untuk menjaga martabat manusia dengan pesan utama rahmah (kasih-sayang). Kedua, pemahaman bahwa pemikiran keagamaan bersifat historis, sementara realitas terus bergerak secara dinamis. Sehingga kontekstualisasi adalah keniscayaan, tidak justru terjebak pada teks yang melahirkan cara beragama yang ekslusif.
Ketiga, tanggung jawab masyarakat untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia dari siapa saja yang ingin merongrong kehormatannya.
“PMII sebagai wadah pergerakan mahasiswa harus cepat merespon. Kemampuan membaca orientasi masa depan masyarakat (future need of the society) yang tepat dan detail sangatlah penting, sehingga proses kaderisasi anggota melalui pendidikan dan pelatihan tidak memproduksi sesuatu yang sudah tidak lagi relevant dengan tantangan zamannya baik skills dan knowledge capacity yang dibutuhkan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua PMII Komsat STAI Ar Ridho, Nasri Hamdani mengucapkan terima kasih atas kesediaan Ustadz Junaidi Dasrul yang meluangkan waktunya malam ini.
"Sahabat Junaidi juga merupakan kader PMII, yang sangat inten berdakwah di tengah masyarakat. Semoga apa yang beliau sampaikan malam ini menjadi motivasi kita untuk lebih baik ke depannya," ujar Nasri. (Babang AJD)