0 menit baca 0 %

Ajaran Baru dengan PJJ, Pengawas : Kesempatan Mengikuti Tuntutan Perubahan

Ringkasan: Dumai (Inmas) - Tahun ajaran baru di Tanah Air dimulai pada, Senin 13 Juli 2020 beberapa hari yang lalu. Meski demikian, umumnya siswa masih mengikuti sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).Pengawas Kantor Kementerian Agama Kota Dumai Drs. H. Ismail dan Suharsana, S.Pd mengatakan, PJJ bisa dijadikan k...

Dumai (Inmas) - Tahun ajaran baru di Tanah Air dimulai pada, Senin 13 Juli 2020 beberapa hari yang lalu. Meski demikian, umumnya siswa masih mengikuti sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Pengawas Kantor Kementerian Agama Kota Dumai Drs. H. Ismail dan Suharsana, S.Pd mengatakan, PJJ bisa dijadikan kesempatan bagi siswa maupun orang tua untuk mengikuti tuntutan perubahan. Terlebih PJJ sudah dilakukan sejak pertengahan Maret 2020. Artinya, siswa sudah mengikuti PJJ selama hampir setengah semester.

Pemerintah juga meniadakan Ujian Nasional bagi siswa yang akan melanjutkan ke tingkat selanjutnya. “Siswa juga sudah melewati Kegiatan belajar mengajar (KBM) sampai dengan PAS (Penilaian Akhir Semester) dengan PJJ,” ujarnya bersama Guru Madrasah Ibtidiyah (MI) dalam Acara Workshop Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Tingkat MI se-Kota Dumai Tahun Anggaran 2020, bertempat di MIN 1 Kota Dumai, Kamis (23/07/2020).

Memang, PJJ yang dilakukan tidak seefektif dengan KBM yang sudah dirancang dengan tatap muka sebelumnya. Banyak kendala yang dihadapi siswa maupun orang tua saat menjalankan PJJ ini.

Menurut H. Ismail, masalah yang lebih sulit daripada kendala gadget dan jaringan internet adalah merubah kurikulum di tingkat satuan pendidikan dan metode pengajaran agar efektif dengan sistsm PJJ. “Itu bukan hal yang mudah karena penyusunan kurikulum selama ini menggunakan metode tatap muka,” tukasnya.

Menurut dia, setiap tingkatan usia memiliki karakteristik sendiri, sehingga perlu sangat dipertimbangkan metode penyampaian materi agar efektif. Sehingga capaian pembelajaran tentunya juga harus diubah.

“PJJ yang lalu memang dilakukan secara ‘darurat’ dan dalam situasi terpaksa, sehingga tidak ada persiapan yang baik dari semua pihak. Baik sekolah, guru, siswa, dan orang tua. Karenanya semua merasa terkejut dan mengalami kesulitan,” paparnya.

Dalam kondisi saat ini, kata dia, penggunaan internet sudah menjadi tuntutan global sehingga penyiapan infrastruktur (jaringan) maupun manusianya sendiri perlu dilakukan. Dengan PJJ siswa juga harus berhadapan dengan perkembangan teknologi. “Sebenarnya metode daring tidak cocok untuk semua usia dan semua lokasi,” tukasnya.

“Misalnya anak yang lebih kecil usianya akan kesulitan untuk mengerjakan tugas-tugas konseptual dan akan sangat membutuhkan pendampingan orang tua. Sementara anak yang lebih besar, lebih mudah menerima materi PJJ karena lebih mandiri dalam belajar,” katanya.

Ia melanjutkan, jika memang jaringan internet tidak bagus, bisa dilakukan kegiatan belajar mandiri, di mana siswa diberikan setumpuk tugas untuk dikerjakan di rumah dalam waktu satu atau dua pekan. Teknisnya, diambil ke sekolah lalu ditukarkan lagi. Tutupnya (Arief)