Riau (humas)- Penyuluh agama adalah ujung tombak pelayanan bagi kanwil kementerian Agama. Oleh Karena itu penyuluh dalam semua agama harus memiliki bekal yang mumpuni dalam menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Fungsi tersebut meliputi menyampaikan bahasa agama yang mengandung kebaikan, kebenaran dari setiap ajaran yang diyakini masing masing pemeluk. Serta mampu menghidupi keberagaman dan menyampaikan bahwa nilai keberagaman itu aset bangsa yang harus di pelihara dengan baik. Mereka ini telah disiapkan oleh Kemenag untuk melaksanakan tugas keumatan ditengah masyarakat. Hal tersebut disampaikan Kakanwil Kemenag Riau H Mahyudin dihadapan 56 orang Penyuluh Agama Kristen Non PNS di ruang kerjanya, Jumat (17/07).
Selaku orang nomor satu di Kanwil Kemenag Riau, H Mahyudin hadir dalam kegiatan yang dipusatkan di kabupaten Siak tersebut untuk memberikan pembinaan kepada penyuluh agama Kristen. Mengingat penyuluh merupakan bagian atau perpanjangan tangan pemerintah dalam mengayomi umat.
Melalui kegiatan yang diikuti oleh empat Kabupaten Bengkalis, Siak, Dumai Rohil tersebut, ia menyampaikan harapan pemerintah terhadap penyuluh yaitu dapat mencerdaskan umat yang tidak hanya cerdas secara intelektual. Namun bijak menyikapi wacana maupun persoalan keumatan yang muncul ditengah masyarakat. Kakanwil berharap peran penyuluh agama memiliki peran sentral dalam pembentukan karakter, akhlak, dan watak setiap orang yang beragama. Hal ini penting untuk menghindari dari perbuatan perbuatan negatif yang melanggar norma dan juga nilai agama, seperti : pergaulan bebas, pengunaan narkoba, judi, gaya hidup konsumtif dan hedonis.
“Maka disinilah pentingnya kehidupan beragama, moral anak bangsa ini kita kawal bersama,” terangnya.Â
“Hal ini berkenaan dengan misi Kementrian Agama Riau diantara misinya adalah meningkatkan kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran agama, bukan hanya sekedar pemahaman tapi juga meningkat pengamalan agamanya sehingga tidak terjadi hal-hal yang merugikan umat.
Dengan peningkatan kualitas pemahaman dan pengamalan umat beragama inilah yang menimbulkan toleransi antar umat beragama, tidak akan ada radikalisme jika pemahaman beragamanya berkualitas,” tuturnya.
Rukun merupakan kata yang sangat singkat, namun maknanya sangat dalam. Mengapa demikian? Ketika kerukunan terjadi ditengah masyarakat, akan membawa implikasi negatif terhadap kehidupan masyarakat itu sendiri, lanjutnya. Belum lagi jika terjadi pertikaian antar umat beragama, lanjutnya lagi.
Disinilah empat fungsi penyuluh yaitu fungsi informatif, fungsi edukatif, fungsi konsultatif dan fungsi advokatif yang musti dilakoni penyuluh agama sebagai pengayom umat.Â
Pada kesempatan itu, kembali Kakanwil mengingatkan kepada para penyuluh terkait surat edaran Menag RI nomor 15 Tahun 2020 tentang Panduan Penyelenggaraan Kegiatan Kegamaan di Rumah Ibadah dalam mewujudkan masyarakat produktif, aman covid dimasa pandemi. Sejak awal Maret hingga Juni kita sudah dihadapkan dengan penghentian atau larangan berkumpul.
“Dan saat ini sudah diperbolehkan kembali untuk dibuka dengan cara protocol kesehatan yang ketat, lagi lagi disinilah dibutuhkan peran penyuluh agama lebih dimaksimalkan lagi,” katanya.
Dalam kegiatan pembinaan ini, H Mahyudin juga menyampaikan, “Sebagai penyuluh kita harus menyadarkan umat bahwa menjalani kehidupan saat ini perlu kewaspadaan ekstra terhadap protokol kesehatan yang ada, mulai dari menggunakan masker, sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, ataupun menjaga jarak minimal satu-dua meter,” ungkapnya. “Ini berlaku tidak hanya saat berada dirumah ibadah, namun dimanapun berada,” tukasnya.
Menurutnya pengurus rumah ibadah perlu menyiapkan APD tersebut, minimal ada air, galon dan sabun, itu sudah cukup, imbuhnya. “Bila perlu masing masing rumah ibadah juga menyiapkan alat ukur suhu tubuh, jika ada jemaah yang didapati sedang sakit, maka dianjurkan untuk beribadah dirumah saja,” pesan Kakanwil.
Sebelum mengakhiri arahannya, Kakanwil mengingatkan agar para penyuluh agama Kristen dapat menjalankan perannya demi meningkatkan kerukunan umat beragama. “Jika terjadi masalah dimasyarakat, penyuluh adalah penyejuknya. Jika ada kobaran api, penyuluh adalah sebagai airnya, jangan sampai penyuluh agama yang menjadi provokatornya,” tekannya.(vera)