Pekanbaru
(Inmas), Dalam rangkan memberikan motivasi dan inspirasi kepada Pegawainya
untuk berkurban, Ka. Kankemenag Kota Pekanbaru, Dr. H. Edwar S. Umar, M.Ag menshare sebuah kisah nyata. Ahad
(05/07/2020).
Kisah ini
diceritakan seorang pedagang hewan qurban pada Idul Adha tahun lalu, tentang
sebuah kejadian yang membuat hatinya amat tersentuh, berikut kisahnya:
Seorang
wanita datang memperhatikan dagangan saya. Dilihat dari penampilannya
sepertinya tidak akan mampu membeli.Namun tetap saya coba hampiri dan
menawarkan kepadanya. "Silakan bu..!"
Lantas ibu
itumenunjuk salah satu kambing termurah sambil bertanya : "Kalau yang itu
berapa Pak?" "Yang itu 1.700 .000 ribu bu." jawab saya. "Harga
pasnya berapa?" tanya kembali si Ibu.. "1.600.000 deh, harga segitu
untung saya kecil, tapi biarlah" jawab saya. "Tapi, uang saya hanya
1.500 .000 ribu, boleh pak." pintanya. Waduh, saya bingung, karena itu
harga modalnya, akhirnya saya berembug dengan teman sampai akhirnya diputuskan
diberikan saja dengan harga tersebut..
Saya pun
mengantar hewan qurban tersebut sampaike rumahnya, begitu tiba di rumah nya. Astaghfirullah,ALLAHU
Akbar terasa menggigil seluruh badan karena melihat keadaan rumah ibu itu. Rupanya
ibu itu hanya tinggal bertiga, dengan ibunya dan puteranya dirumah gubug
berlantai tanah. Saya tidak melihat tempat tidur kasur, kursi ruang tamu,
apalagi perabot mewah atau barang-barang elektronik. Yang terlihat hanya dipan
kayu beralaskan tikar dan bantal lusuh. Di atas dipan, tertidur seorang nenek
tua kurus.
"Mak,
bangun mak, nih lihat saya bawa apa?" kata ibu itu pada nenek yang sedang
rebahan sampai akhirnya terbangun. "Mak, saya sudah belikan emak kambing
buat qurban, nanti kita antar ke Masjid ya mak." kata ibu itu dengan penuh
kegembiraan. Si nenek sangat terkaget, tapi nampak jelas raut bahagia di
wajahnya, ia segera berjalan keluar dengan langkah yang gontai karena usianya
yang senja..
.
Sambil
mengelus-elus kambing, nenek itu berucap : "Alhamdulillah, akhirnya
kesampaian juga kalau emak mau berqurban." "Nih Pak, uangnya, maaf ya
kalau saya nawarnya kemurahan, karena saya hanya tukang cuci di kampung sini,
saya sengaja mengumpulkan uang untuk beli kambing yang akan diniatkan buat
qurbanatas nama emak saya." Kata ibu muda itu.
.
Kaki ini
bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa :
"Ya ALLAH,ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu
yangpasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan Imannya
begitu luar biasa.".
"Pak,
ini ongkos kendaraannya." Panggil ibu itu. "Sudah bu, biar ongkos
kendaraanya saya yang bayar." kata saya sambil menyembunyikan mata saya
yang sudah berkaca-kaca.
Saya cepat
pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah karena tak sanggup
mendapat teguran dari ALLAHsudah mempertemukan dengan hamba-NYA yang dengan
kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya meski
dengan segala keterbatasan ekonominya. (Idris/
Bustamar)