BANTAN (Inmas) - Pendidikan kesehatan reproduksi dianggap sebagai salah satu ujung tombak dalam memerangi kasus kekerasan seksual yang makin marak di kalangan remaja. Apalagi, banyak pelaku kekerasan seksual berasal dari kalangan remaja.
Berdasarkan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja yang disusun oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada 2018, satu dari dua anak perempuan mengaku pernah mengalami kekerasan emosional. Sementara satu dari tiga anak perempuan juga pernah mengalami kekerasan fisik. Tiga dari empat anak mengakui pelakunya adalah teman atau sebayanya.
Lembaga Konsultasi Kesehatan Keluarga (LK3) Dinas Sosial Kab. Bengkalis bekerjasama dengan Puskesmas Selatbaru Kec. Bantan melaksanakan Penyuluhan Kesehatan Reproduksi, Pencegahan Kekerasan pada Perempuan dan Anak, serta Kesehatan Penyandang Disabilitas. Kegiatan tersebut difokuskan di Desa Resam Lapis Kec. Bantan pada hari Kamis (10/08/2023).
Peserta berjumlah 35 orang terdiri dari Kader Kesehatan Desa, Ibu Hamil, Ibu Menyusui, Pasangan usia subur dan wanita Usia Subur. Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi kepada seluruh peserta dan nantinya bisa disampaikan kepada seluruh Masyarakat luas tentang pentingnya mengetahui kesehatan reproduksi, mengenal darah haidh, darah nifas dan istihadhah.
Eny Gustinawati, sebagai salah satu narasumber yang juga merupakan PAIF Kec. Bantan dalam materinya mengajak kepada seluruh peserta untuk menjaga kesehatan alat reproduksi terutama para remaja usia subur.
"Saat ini banyak para remaja yang kurang memahami pentingnya menjaga kesehatan reproduksi dan masih banyak juga para remaja wanita yang tidak bisa membedakan antara darah haidh dan darah bukan haidh.” ujar Eny.
Kegiatan penyuluhan seperti ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada orang tua dan para remaja, akan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi demi keberlangsungan hidup manusia dan dalam rangka mewujudkan generasi yang lebih berkualitas di kemudian hari.”tutup Eny di akhir materi. (Timredaksikuakecbantan)