Riau (Inmas) - Bulan Ramadhan sudah di ambang
pintu, keputusan ditetapkannya awal Ramadhan menunggu sidang Isbat (penetapan)
yang dilaksanakan oleh pemerintah melalui Kementerian Agama. Penentuan awal
Ramadhan dapat dilakukan melalui dua methode, yakni Hisab dan Rukyah.
“Hisab adalah perhitungan astronomis dalam
menentukan awal bulan komariyah. Sedangkan Rukyat adalah mengamati atau
pengamatan bulan melalui mata (observasi hilal dengan mata) atau melihat langsung
dengan menggunakan alat untuk mengetahui anak bulan itu sudah dilihat atau
tidak”. Tutur Dr. H. Zulfadli , Lc, MA pada Zoom Meeting Kemenag Riau Menyapa,
Jumat (25/3/22).
Sementara itu waktu yang digunakan untuk dapat
melihat hilal awal bulan dilaksanakan pada tanggal 29 setiap bulan hijriyah.
“ketika kita ingin melihat bulan Ramadhan maka
kita akan melihatnya di tanggal 29 Sya’ban begitu juga ketika kita ingin
melihat awal bulan syawal maka kita melihatnya di tanggal 29 bulan Ramadhan.”
Masyarakat atau Organisasi yang menggunakan
Hilal sebagai sarana untuk menghitung awal bulan Hijriyah memiliki kriteria dalam
penetapannya, kriteria tersebut diantaranya Pertama: telah terjadi ijtima’/konjungsi ( peristiwa di mana Bumi dan Bulan berada di posisi bujur langit yang sama,
jika diamati dari Bumi), Kedua: ijtima’ terjadi sebelum maghrib, Ketiga:
Hilal itu sudah wujud walaupun posisinya 0,..sehingga bagi yang menggunakan
hisab sudah bisa menentukan waktu awal bulan hijriyah.
“contoh ormas yang menggunakan metode Hilal yakni Muhammadiyah, mereka
sudah dapat menentukan kapan awal bulan ramdhan, syawal dzulhijjah dan bulan
hijriyah lainnya”.
Lebih lanjut Zulfadli menerangkan, terkait kebijakan pemerintah terhadap
penentuan awal bulan Ramadhan mengambil posisi di tengah dengan menggunakan
Hisab sebagai informasi dan rukyat sebagai konfirmasi.
“konsekuensi pemerintah merumuskan apa yang disebut
dengan imkanul rukyat, kapan waktu memungkinkan untuk melihat bulan, kriteria
imkanul rukyat ini dirumuskan pemerintah bersama Negara –nagara MABIMS (Majelis
Agama Brunei, Indoensia, Malaysia Singapura), hal ini dilakukan dalam upaya
kesepakatan dengan tingkatan yang lebih global di asia tenggara. Kriteria yang
dirumuskan tinggi hilal berada pada posisi 30 dengan sudut elongasi
(perbedaan sudut antara bulan dan matahari) harus 6,40, sehingga
diprediksi Ramadhan tahun ini besar kemungkinan terjadi perbedaan karena
menurut ilmu hisab ijtimak awal ramadhan pada tanggal 1 April 2022 jam 13.24
Wib dengan ketinggian hilal berada pada 203’82“, artinya ini tidak
masuk kriteria MABIMS,”.
Dari penyampaian tersebut, besar kemungkinan
terjadi perbedaan awal ramadhan pada 1443 H, meskipun demikian dalam penetapan
awal ramadhan perlu dilakukan sidang isbatyang berfungsi untuk kemaslahatan
masyarakat, jika tidak ada sidang isbat maka jurang perbedaan penggunaan metode
penentuan awal Ramadhan akan terbuka lebar.
“Sidang Isbat yang dilakukan pemerintah melalui
Menteri Agama melibatkan Ormas Islam dan Dubes perwakilan Negara Islam yang ada
di Indonesia”
Diakhir
penyampaiannya Zulfadli berharap agar masyarakat dianjurkan untuk mengikuti apa
yang telah ditetapkan pemerintah melalui siding Isbat.Â