0 menit baca 0 %

Hadapi Pemilu 2024 , Junaidi Dasrul : 'Saatnya Penyuluh Agama berperan lebih optimal'

Ringkasan: Rokan Hilir (Inmas) - Tahun 2024 merupakan tahun pemilu. Istilah ini banyak digunakan oleh para tokoh dan media terkait dengan hajatan demokrasi di negeri ini. Dalam dunia politik, hampir semua sisi kehidupan bisa diolah menjadi isu, dapat dijadikan kekuatan, sekaligus senjata melemahkan lawan.

Rokan Hilir (Inmas) - Tahun 2024 merupakan tahun pemilu. Istilah ini banyak digunakan oleh para tokoh dan media terkait dengan hajatan demokrasi di negeri ini. 

Dalam dunia politik, hampir semua sisi kehidupan bisa diolah menjadi isu, dapat dijadikan kekuatan, sekaligus senjata melemahkan lawan. Apalagi, iklim demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan telah memberikan ruang luas kepada setiap orang dalam bersikap, berekspresi, dan bertindak sesuai koridor yang disepakati.

Begitu yang disampaikan oleh Junaidi Dasrul, seorang Penyuluh Agama Non PNS Kecamatan Bangko, saat diajak oleh Inmas bincang-bincang ringan mengenai peran penyuluh Agama dalam menghadapi pemilu 2024, Kamis (5/1/2023).

Junaidi mengatakan, Demokrasi menjadi jalan yang dipilih bangsa ini dalam bernegara, dan itu sudah dilalui dengan relatif mulus. Dan tahun 2024 perhelatan besar itu kembali akan dilalui oleh bangsa ini.

"Dalam konteks ini, agama dan suku selalu menjadi isu paling sensitif.  Keduanya tidak jarang dijadikan alat politik untuk meraih dukungan," ucap Junaidi. 

Di sinilah titik kritis yang perlu mendapat perhatian bersama agar setiap potensi persoalan bisa diantisipasi sehingga harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara tetap terjaga.

"Dan salah satunya adalah Peran Penyuluh Agama," tandasnya.

Dalam konteks kebangsaan Junaidi mengatakan bahwa penyuluh agama memiliki posisi yang sangat penting. Mereka bisa disebut sebagai salah satu tulang punggung pemerintah yang bertugas memberikan penyuluhan  pembangunan melalui bahasa agama. 

"Penyuluh agama bisa disebut juga, meminjam istilah Bung Karno, sebagai "penyambung lidah" pemerintah kepada masyarakat atau masyarakat kepada pemerintah," tambahnya lagi.

Penyuluh Agama jelas Junaidi lagi, memiliki jenis tugas masing-masing, seperti pembinaan pada rumah-rumah ibadah, pembinaan kerukunan umat beragama, penyiaran ajaran agama yang moderat, penanggulangan radikalisme, pencegahan bahaya Narkoba, pemberdayaan ekonomi umat, pendampingan dan pembinaan rohani bagi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan, serta tugas-tugas kemasyarakatan lainnya. 

"Mereka telah dibekali dengan wawasan kurikulum, metode, dan pola pendampingan masyarakat," imbuhnya.

Lebih lanjut Junaidi memaparkan, bahwa penyuluh agama juga hadir memberi pencerahan dan peningkatan kesadaran dalam beragama. Penyuluh Agama berkolaborasi dengan berbagai pihak agar masyarakat tetap mendapatkan bimbingan agama.  

"Penyuluh Agama juga mengabdikan diri untuk menjaga wilayah-wilayah kedaulatan melalui pengajaran tentang wawasan kebangsaan dan kecintaan kepada Tanah Air (hubbul wathan)," ungkap Junaidi.

Di banyak kesempatan, penyuluh agama diharapakan mampu mendeliver pesan-pesan agama sekaligus menjadi juru penerang masyarakat. 

Karena posisi penyuluh yang sangat sentral tersebut jelas Junaidi lagi, peran penyuluh agama sangat besar dalam menghadapi pemilu 2024, sehingga dapat mewujudkan pemilu yang aman dan tertib, meskipun berbeda pilihan tapi tetap dalam bingkai persatuan dan kesatuan. 

Dari peran yang besar ini, penyuluh agama diharapkan dapat mencairkan suasana yang panas, melembutkan yang keras, dan mendamaikan yang bertikai  sehingga eksistensinya benar-benar dirasakan masyarakat. 

"Saatnya penyuluh agama berperan lebih optimal, dan semua pihak juga memberikan perhatian lebih, agar demokrasi dapat berjalan dengan layak, masyarakat bisa berdemokrasi dengan bijak, sehingga kesejahteraan bisa berdiri tegak," pungkas Junaidi. (AjdSyaheed)