0 menit baca 0 %

Hari kedua Pelatihan Deteksi Dini dan Religiosity Index Penanganan Konflik

Ringkasan: jakarta - Hari kedua, Rabu (16/11/22) pelaksanaan Master Training dan Pelatihan Deteksi Dini dan Religiosity Index yang ditaja Badan Penelitian dan Pengembangan Serta Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Agama RI, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau Dr.

jakarta - Hari kedua, Rabu (16/11/22) pelaksanaan Master Training dan Pelatihan Deteksi Dini dan Religiosity Index yang ditaja Badan Penelitian dan Pengembangan Serta Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Agama RI, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau Dr. H. Mahyudin, MA bersama Ka. Kanwil Kemenag, Pimpinan Perguruan Tinggi dan Pengurus FKUB Se Indonesia mengikuti materi Pengantar Konflik sosial, Konflik sosial dalam dimensi keagamaan dan kebangsaan serta Analisis konteks sosial dan Analisis peta resiko konflik.

Dipandu dengan Narasumber Mariana dan Syaltout yang dimulai dari pukul 08.00 Wib – 18.00 Wib, seluruh perserta mengikuti dengan tekun dan serius.

Dalam paparan Materi pertama membahas Pengantar Konflik sosial, dimana konflik dipengaruhi oleh fakta dan norma yang berbeda antara dua kelompok yang tidak bisa dipertemukan. Akan selalu ada dua atau lebih narasi fakta yang berkembang dalam suatu konflik dan ada dua atau lebih norma yang berbeda dalam pemahaman pada kelompok yang bertikai tersebut.

Sedangkan menurut cara pandang sosiologis merupakan suatu proses sosial saat ada dua kepentingan, nilai dan kepercayaan atau lebih  yang berbeda yang berujung pada meneteralkan, mencederai atau bahkan melenyapkan individu atau kelompok yang berbeda.

Narasumber yang merupakan Tenaga Ahli Menteri Agama Bidang Analisis Pengembangan Kementerian dan Lembaga Dr. Mahmud Syaltout  dan A. Menteri Agama / Master Fasilitator, CCHN/ ICRC Dr. Mariana Hasbie, M. Li . juga memaparkan konflik selalu hadir dalam kehidupan manusia, konflik punya dua sisi potensi resiko dan manfaat. Konflik juga dipengaruhi pola emosi, kepribadian dan budaya, serta konflik umumnya melibatkan masyarakat dan negara.

Kegiatan yang berlangsung selama 5 hari tersebut di bagi ke dalam 4 angkatan dan 4 ruang belajar.