0 menit baca 0 %

Ka KUA Kecamatan Sungai Mandau: Manajemen Konflik Sebuah Solusi Mewujudkan Keluarga Bahagia dan Berkekalan

Ringkasan: Siak (Inmas) Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sungai Mandau Alwis, S. SosI, MA mengungkapkan bahwa dalam kehidupan keluarga yang berlatarbelakang dan karakter bermacam-macam, akan sering terjadinya konflik. Hal tersebut disampaikan dihadapan 31 Calon Pengantin yang mengikuti Bimwin Pra Nik...

Siak (Inmas) – Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sungai Mandau Alwis, S. SosI, MA mengungkapkan bahwa dalam kehidupan keluarga yang berlatarbelakang dan karakter bermacam-macam, akan sering terjadinya konflik. Hal tersebut disampaikan dihadapan 31 Calon Pengantin yang mengikuti Bimwin Pra Nikah yang dilaksanakan oleh Seksi Bimas Islam Kantor Kementerian Kabupaten Siak pada zona 5 Kabupaten Siak (gabungan 3 kecamatan, Kecamatan Sungai Mandau, Kecamatan Tualang  dan Kecamatan Minas), Kamis, (16/07/2020).

Di awal pengantar materinya, Alwis, S. SosI, MA mengungkapkan bahwa pernikahan adalah hubungan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita, sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia (sakinah, mawaddah & warrahmah), kekal berdasarkan ketuhanan yang maha esa. Lalu kita menikah, mengikat janji suci antara  laki-laki dan perempuan, yang notabene memiliki banyak perbedaan, mulai dari hobi yang berbeda, adat/  kebiasaan yang berbeda, latar belakang dan status yang berbeda, pendidikan yang berbeda, cara pandang (pola fikir) yang berbeda, serta cita-cita yang berbeda.  Disatukan dalam satu rumah bernama “rumah tangga” dengan kehidupan baru dan dengan orang yang baru dikenal dalam kehidupan yang notabene memiliki banyak perbedaan-perbedaan, maka secara tidak langsung perbedan tersebut terkadang akan memunculkan persoalan-persoalan yang bisa menimbulkan konflik dalam kehidupan rumah tangga.

Alwis menambahkan bahwa perlu disadari bagi setiap peserta/ calon pengantin, potensi konflik akan sering ada itu wajar, hanya saja konflik menjadi tidak wajar ketika kita tak mampu menjadikan bumbu-bumbu dalam kehidupan rumah tangga, dan ketika hal itu dibiarkan begitu saja disebabkan suami istri tidak memiliki kecerdasan sosial, namun lebih mengedepankan ego, angkuh, merasa paling benar dan sederet sifat buruk lainnya. sehingga ketika persoalan muncul ataupun persoalan lama muncul atau juga persoalan hampir sama muncul kepermukaan, dan ternyata tak arif dalam bersikap sehingga cara penyelesaian tidak lebih baik, bahkan cendrung lebih jelek, maka hal tersebut akan menimbulkan konflik yang membahayakan kehidupan rumah tangga.

Dalam materi Bimwin Pra Nikah tersebut Alwis mengungkapkan juga beberapa sumber konflik suami istri, diataranya marah “berlebihan”, suami istri pincang dalam menunaikan kewajibannya, hadirnya pihak ketiga yang ikut campur persoalan rumahtangga, serta terlalu tak siap dengan sikap suami atau istri yang sesungguhnya. “Oleh karenanya  pada kesempatan ini saya berpesan kepada semua peserta agar berkemampuan menyelesaikan dan memetakan semua konflik dengan beberapa cara diantaranya; Pertama agar banyak bersabar dalam kehidupan baru ini serta berusaha menyelesaikan semua persoalan rumah tangga yang muncul dengan arif dan bijaksana, Kedua beriman kepada Allah secara kaffah, Ketiga pahami arti keluarga yang sesungguhnya, bahwa keluarga adalah individu yang terdiri dari suami, istri dan anak, maka sebesar apapun masalah yang muncul harus diselesaikan berdua terlebih dahulu (suami istri) dengan sekuat tenaga tanpa melibatkan siapapun, Keempat muhasabah diri dan berbicaralah dengan cara bergantian, dan yang terakhir adalah menghadirkan penengah ketika suami istri betul-betul tak menemukan solusi terhadap persoalan yang muncul dengan syarat bahwa yang bersangkutan berlaku adil, berpengetahuan, serta  berkemampuan menjaga aib keluarga kita, semoga kita semua dijadikan Allah Swt keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrahmah,” ujar Alwis menyampaikan penuh harap. (Hd/Aws)