0 menit baca 0 %

Kabid Urais: "Manajemen Masjid Melalui Pelatihan Takmir dan Pendataan Masjid secara Online, menuju Aplikasi dan Masjid Bermarwah"

Ringkasan: Riau (humas) - Masjid berperan strategis sebagai pusat pemberdayaan umat, perlindungan dan persatuan umat. Agar terjadi kerukunan umat beragama dan toleran. Masjid bukan hanya tempat ibadah ritual (mahdhah), tapi juga berfungsi ghaira mahdhah atau sosial, misalnya pendidikan, ekonomi, sosial budaya.

Riau (humas) - Masjid berperan strategis sebagai pusat pemberdayaan umat, perlindungan dan persatuan umat. Agar terjadi kerukunan umat beragama dan toleran. Masjid bukan hanya tempat ibadah ritual (mahdhah), tapi juga berfungsi ghaira mahdhah atau sosial, misalnya pendidikan, ekonomi, sosial budaya. Maka dibutuhkan standar manajemen masjid. Agar terwujudnya umat berkualitas di bawah panji-panji masjid. 

Hal ini disampaikan Kabid Urais, Drs. H. Afrialsah Lubis, Mpd  saat memberikan Materi manajemen masjid juga secara teleconference. Kegiatan dalam sesi kedua Rapat Koordinasi Tugas Bidang Urais ini dimulai pukul 10.15 WIB. Dibuka langsung oleh Kakanwil Kemenag Riau Dr H Mahyudin Ma., Rabu (29/07/20)

"Di bawah fungsi masjid itu sendiri harus ada stand manajemen. Jangan sampai terjadi taqlid, tanpa hujjah science", tandasnya. 

Menurutnya peran  masjid ada 3, antara lain;

Pertama  sebagai idharah, kegiatan pengelolaan mencakup perencanaan, pengorganisasian, pengadministrasian, keuangan, pengawasan, pelaporan. Kedua sebagai Imarah, kegiatan memakmurkan masjid, peribadatan, pendididikan, kegiatan sosial dan peringatan hari besar Islan dan ketiga sebagai Kegiatan pemeliharaan bangunan masjid, peralatan, lingkungan kerbersihan, keindahan dan kemanan masjid termasuk penentuan arah kiblat. 

Maka pekerjanya diberikan pelatihan untuk bisa  memanage keuangan, baik rohani dan jasmaniah sehingga menjadi utuh dalam satu kesatuan.

"Banyak masjid yang masih baru sudah mengadakan pelebaran, renovasi. berarti kurangnya perencanaan", keluhnya.

Ia menyayangkan ada masjid yang Kebersihan kurang terjaga, karena tidak jalannya riayah itu, karena pelatihan masjid kepada takmir belum berjalan.

Menurutnya perlu adanya susunan struktur organisasi masjid dan Mushalla. Sehingga ada Ketua, sekretaris dan bendahara. Kemudian ada bidang-bidangnya. Para kiyai atau tokoh agama yang perlu ditempatkan untuk perencanaan, pelatihan dan pengawasan.

Sedangkan untuk bidang riayah,  Ia berharap ditempatkan yang ahli agar masjidnya menggunakan teknologi  tepat guna sehingga masjid selalu harum dan bersih serta aman.

Afrialsah mengingatkan jangan sampai ada masjid yang  sudah dicanangkan pemerintah kabupaten/kota ataupun gubernur  mendapat bantuan, tapi tidak terdata dalam SIMAS. 

"Maka betul-betul dilakukan pendataan secara online yang bisa dilakukan kapan dan dimana saja. Jadi ini tergantung operator yang memasukkan data dalam hal ini. Maka kita harus mengawal aplikasi ini agar selalu diperbaiki sehingga kita dan aplikasi ini bisa bermarwah", pintanya.

Afrialsah mengingatkan pentingnya memahami perbedaan jenis-jenis masjid yang ada. Misalnya perbedaan antara masjid negara dan masjid nasional. Kemudian perbedaan antara masjid Raya dan Masjid Agung serta masjid Besar. Sampai perbedaan antara masjid Jami dan masjid bersejarah, juga Masjid di tempat publik dan Mushalla.

"Maka perlu dikasih reward  para operator kita ini oleh jajaran kasi, bisa berupa piagam penghargaan bagi yang sudah menyerahkan data yang plling valid secara rangking", hiburnya.(vera)