Indragiri Hulu, (Inmas). Menindaklanjuti Surat Dinas Perpustakaan Kab. Inhu Nomor: 041/DISPUS/187, Tanggal: 28 September 2023, Perihal: Permintaan Narasumber, maka pada hari Senin 2 Oktober 2023, mewakili Kakankemenag Kab. Inhu, Kasi PAIS Kankemenag Kab. Inhu H. Rajuki Ridwan, S.Ag., MA menjadi Narasumber kegiatan Festival Literasi Tahun 2023, ditaja Dinas Perpustakaan Kab. Inhu, dengan tema “Membangun Budaya Literasi Dalam Keluarga Merupakan Kunci Kesuksesan Anak”.
Keluarga adalah role model utama bagi tumbuh kembang anak. Apa yang ditanamkan di rumah berpengaruh besar pada akan seperti anak di masa mendatang. Orangtua sebagai nakhoda adalah yang menentukan akan dibawa kemana dan ingin seperti apa anak berkembang. Membangun kebiasaan melek literasi di rumah bisa dimulai dengan cara mendongeng, membacakan buku ataupun menulis. Anak yang terbiasa didongengkan atau dibacakan buku, bisa dipastikan akan tumbuh menjadi insan yang mencintai buku. Kecerdasan linguistik anak akan lebih terasah, mereka menjadi lebih komunikatif, ekspresif serta daya imajinasi anak lebih berkembang. Rasa keingintahuan anak yang besar mendorong mereka untuk mencari dan menggali lebih banyak melalui buku. Peranan keluarga menurut Stephen R. Covey ada 4 yaitu:
Modelling, orangtua merupakan model atau panutan anak-anaknya. Orangtua memengaruhi secara kuat sekali dalam hal keteladanan bagi sang anak. Baik hal positif ataupun negatif, orangtualah yang pertama dan terdepan yang dijadikan teladan oleh anak. Orangtua menjadi pola pembentukan “Way of Life” atau gaya hidup anak. Cara berpikir dan perbuatan anak dibentuk oleh cara berpikir dan berbuat orangtuanya. Dengan cara seperti inilah orangtua mewarisi perbuatan dan pola pikir buat anaknya. Mentoring, artinya kemampuan untuk menjalin atau membangun hubungan, menanamkan kasih sayang kepada orang lain, atau pemberian perlindungan kepada orang lain secara mendalam, jujur dan tanpa syarat. Organizing, keluarga juga merupakan analogi dari perusahaan kecil yang memerlukan kerjasama tim, dalam menyelesaikan permasalahan, tugas, atau memenuhi kebutuhan keluarga. Teaching, orang tua sebagai guru di lingkungan keluarga. Orang tua mengajarkan kepada anak-anaknya tentang hukum-hukum atau prinsip dasar kehidupan. Di sinilah orangtua diuji kompetensinya untuk menciptakan kemampuan sadar pada diri anak, yaitu anak sangat menyadari apa yang dikerjakannya dan memahami alasan mengapa mengerjakan hal itu.
Menanamkan literasi sejak dini adalah solusi yang paling jitu dalam mencetak generasi melek literasi. Literasi dini bukan diartikan mengajarkan membaca, tapi menjadikan anak mencintai membaca, membangun fondasi untuk membaca agar dikemudian hari apabila anak sudah waktunya belajar membaca mereka lebih siap.
Orang tua dapat berperan sebagai inspirator maupun fasilitator bagi anak. Sebagai inspirator, orang tua dapat memulainya dengan membacakan cerita atau buku kepada anak ketika mau tidur. Menjadi panutan bagi anak dalam kegiatan membaca. Jika orang tuanya suka membaca, hal ini dapat merangsang anak untuk meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Orang tua hendaknya berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan anak dengan mengutip dari buku sehingga merangsang anak untuk membaca langsung dari sumbernya. Orang tua juga dapat mengajari anak untuk merawat dan menghargai buku-buku yang dipunyainya. Sebagai fasilitator, orang tua dapat mengajak anak jalan-jalan ke toko buku dan membelikan buku-buku yang menggugah minat baca anak. Kalau memungkinkan, orang tua juga dapat membuat perpustakaan mini untuk anak, demikian rangkaian materi yang disampaikan H. Rajuki Ridwan.(tulang)