0 menit baca 0 %

Mengenal Farhan Ansharullah A, JCH Termuda dari Kabupaten Siak Berangkat Sama Ibunya

Ringkasan: Siak (Inmas) - Farhan Ansharullah Ahmad, Jemaah Calon Haji (JCH) termuda di Kabupaten Siak, Riau tahun 1444 H/2023 M. Ia berangkat haji bersama ibunya Zuhaini (55). Farhan, panggilan akrab pemuda murah senyum tergabung ke dalam 205 JCH Kabupaten Siak yang berangkat di Kloter 15.

Siak (Inmas) - Farhan Ansharullah Ahmad, Jemaah Calon Haji (JCH) termuda di Kabupaten Siak, Riau tahun 1444 H/2023 M. Ia berangkat haji bersama ibunya Zuhaini (55). Farhan, panggilan akrab pemuda murah senyum tergabung ke dalam 205 JCH Kabupaten Siak yang berangkat di Kloter 15. Namanya dipanggil panitia untuk maju ke depan pada acara pelepasan dan tepuk tepung tawar JCH yang diselenggarakan Pemkab Siak, Jumat (02/06/2023) kemarin, di masjid Sultan Syarif Hasyim (SSH), Islamic Center, Siak.

Seperti dikutip dari laman tribunpekanbaru.com berkesempatan mewawancarainya sesaat sebelum keberangkatannya menuju Embarkasi Haji Antara (EHA) Pekanbaru. Farhan sangat ramah, murah senyum dan disenangi lingkungan tempat tinggalnya. Farhan lahir di Minas, kabupaten Siak 28 September 2000 dari pasangan Ahmad Jaiz (alm) dan Zuhaini. Ia anak kedua dari dua bersaudara. Usianya baru menginjak 23 tahun. Masih lajang, dan juga belum mempunyai calon istri.

Ia juga baru wisuda S1 September 2022 lalu pada jurusan Pengembangan Masyarakat Islam, fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Ampel Surabaya. Kedua orang tuanya di Rantau Bertuah berprofesi sebagai guru. Rencananya, usai melaksanakan ibadah haji 2023 ini ia akan kembali ke almamaternya untuk melanjutkan pendidikan S2, dengan jurusan yang linear. Setelah selesai pendidikan, ia ingin berkontribusi untuk kampung halamannya, kampung Rantau Bertuah, kecamatan Minas.

Farhan memang ditempa dengan pendidikan agama sejak kecil. Lahir dari keluarga taat agama, membentuk kepribadiannya yang istiqamah menjalankan syariat agama Islam. Kultur itu pulalah yang membuatnya berpisah dengan kelurarga selama bertahun-tahun demi pendidikannya di Pondok Pesantren.

Masa kanak-kanaknya ia habiskan di kampung halamannya, Rantau Bertuah. Kampung ini termasuk kampung paling ujung di kecamatan Minas jika tidak lazim menyebutkan dengan kampung terisolasi. Sebab, satu-satunya jalan menuju kampung ini dari jalan raya Minas, adalah jalan HTI, yang sampai saat ini tidak beraspal.

Setelah tamat SDN 006 Rantau Bertuah, Farhan dikirim ke Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Probolinggo. Setelah 6 tahun di sana, ia melanjutkan pendidikannya di UIN Sunan Ampel, Surabaya. “Sebenarnya saya sudah lulus untuk studi S2 di UIN Sunan Ampel, jadi sepulang haji Insyaallah saya kembali ke Surabaya, targetnya 2 tahun lulus dan pulang kampung, ingin ikut membangun kampunglah, Insyaallah,” kata Farhan kepada tribunpekanbaru.com.

Farhan berangkat haji bersama ibunya pada 2023 ini sebenarnya pelimpahan porsi almarhum ayahnya. Ia sendiri tidak menyangka bakal ikut naik haji tahun ini karena secara pribadi belum pernah mendaftar. “Ayah dan Ibu saya mendaftar pada 2011 lalu, waktu itu saya masih SD dan ikut mengantarnya. Jadwal keberangkatannya harusnya pada 2020, namun tunda berangkat akibat Covid 19,” kata Farhan.

Pada 2021, ayahnya meninggal dunia. Waktu itu Farhan masih studi S1 di Surabaya. Abangnya, Aji Rayyan Khairi tinggal di Lumajang dan identitas kependudukan di sana, sehingga tidak memenuhi administrasi untuk pelimpahan porsi almarhum ayahnya. “Maka pelimpahan porsinya kepada saya, karena saya berKTP Siak, sedangkan abang saya sama keluarganya sudah berKTP Lumajang,” kata dia.

Menurut Farhan, seharusnya ia dan ibunya berangkat pada 2022 kemarin. Karena ada potongan umur dari Kementerian Agama, ia belum
bisa berangkat. “Maka saya dan ibu menunda keberangkatan jadi pada tahun ini. Alhamdulillah semua proses lancar dan mudah,” kata dia.

Pada proses perjalanan hajinya, Farhan mengaku amat bersyukur bisa melanjutkan niat ayahnya ke Tanah Suci. Selain itu bisa mendampingi ibunya yang sudah lama ingin naik haji. “Saya bersyukur mungkin ini rezeki yang diberikan Allah. Semoga akan banyak haji-haji muda, karena jemaah haji kita banyak yang Lansia. Jika banyak yang muda bisa membantu Lansi saat pelaksanaan ibadah haji,” kata dia.

Pada pelaksanaan haji ini, Farhan juga ingin membantu Lansia dari kabupaten Siak. Sebab secara umum JCH asal Siak sangat banyak Lansia, yang harus dibantu saat pelaksanaan ibadah haji. “Ibadah haji ini ibadah fisik ya, jadi kita -kita yang muda harus mendorong semangat yang tua-tua, jika mereka ada kendala kita yang bantu di sana. Insyaallah saya akan membantu mereka,” kata dia.

Tidak hanya itu, Farhan juga berharap agar anak-anak muda menabung untuk mendaftar haji. Selain waktu tunggu sangat lama, juga harus banyak haji dari kalangan anak-anak muda. “Sekarang banyak sekali anak-anak muda yang kreatif, mandiri dan mapan secara ekonomi. Sebaiknya tabungan haji jangan ditinggalkan agar ke depan JCH kita banyak dari kalangan anak -anak muda,” kata dia.

Farhan menyebut niat berhaji kadang-kadang baru muncul setelah di usia senja. Sedangkan waktu tunggu melebihi 10 tahun. Saat tiba giliran berangkat fisik tidak sekuat dulu. “Maka sebaiknya mendaftar di usia masih muda, dan usahakan usia 38-50 sudah berangkat haji. Usia 38-50 masih kuat secara fisik. Anak-anak muda harus merencanakan keberangkatan haji mereka,” kata dia.

Kenapa harus haji? Farhan menjelaskan, Rukun Islam ke lima itu naik haji bagi yang mampu. Kemampuan ini yang harus dimunculkan dengan manajemen dan perencanaan yang terukur sejak muda. “Mampu secara ekonomi dan mampu secara fisik dan mental, tentu lebih baik. Semoga ke depan anak-anak muda merencanakan ini dan memulai menabung dari sekarang, bila cukup untuk mendaftar, mendaftarlah segera,” pungkasnya. (Hd)

Â