0 menit baca 0 %

Nurleili Lubis Penyuluh Madya KUA Kecamatan Mandau Berikan Materi Keistimewaan Wanita

Ringkasan: Mandau (Inmas) - Keistimewaan Wanita inilah materi yang disampaikan Penyuluh Madya KUA Kecamatan Mandau Nurleili Lubis Penyuluh Madya KUA Kecamatan Mandau kepada Majlis Taklim Muthmainnah, pada acara binaan Rutin setiap hari kamis di Masjid Besar Arafah Duri Kamis (11/10/2023).

Mandau (Inmas) - Keistimewaan Wanita inilah materi yang disampaikan Penyuluh Madya KUA Kecamatan Mandau Nurleili Lubis Penyuluh Madya KUA Kecamatan Mandau kepada Majlis Taklim Muthmainnah, pada acara binaan Rutin setiap hari kamis di Masjid Besar Arafah Duri Kamis (11/10/2023).

Acara ini, langsung diawali dengan penyampaian materi oleh Nurleili Lubis dengan materi Keistimewaan Wanita. Dalam penyampaiannya, beliau mengawalinya dengan sebuah hadis. "Artinya: Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada perempuan. (HR Hakim dari Ibnu Abbas, kitab Al-Jami’us Shaghir)

Lanjut beliau, bahwa Islam telah menegaskan perempuan memiliki kedudukan yang istimewa, maka perilaku mendiskriminasi dan memarginalkan perempuan sama sekali bukanlah potret dari ajaran Islam. Perempuan berhak memiliki multi peran untuk di apresiasi dan tidak ada alasan bagi siapapun untuk menjadikan agama Islam sebagai alasan dibalik perbuatan merendahkan perempuan. Ujarnya

Perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki khususnya dalam lingkungan pekerjaan dan berbagai sektor kehidupan. Bahkan dalam hak politik memberikan kritik dan saran kepada pemimpin. 

Di akhir pengajiannya Nurleili menceritakan tentang bukti sejarah peradaban Islam, bahwa banyak perempuan yang menjadi raja maupun pemuka agama. Dalam Alquran dikisahkan tentang ratu yang bijaksana dari negeri Saba yang memimpin kerajaan besar. Kemudian sosok Aisyah juga sebagai pemimpin di masa dulu. Ulama hadits sepakat bahwa Aisyah adalah ulama perempuan yang banyak meriwayatkan hadis dan pendapatnya dirujuk kaum pria. Walaupun pada masa selanjutnya secara jumlah pemimpin atau pemuka agama perempuan sangat minor sekali dibanding penguasa, ulama, atau intelektual pria, sejarah tersebut menunjukkan perempuan boleh dan mampu menjadi perempuan, baik itu dalam hal agama maupun pemerintahan.

Pengajian rutin tersebut dihadiri seluruh Jamaah Mutmainnah, berkisar 52 orang, tampak dari dekat mereka semuanya bersemangat mendengarkan binaan yang disampaikan Nurleili Lubis.