0 menit baca 0 %

PAIF KUA KEC RENGAT BARAT (M. ROSIDIN, S.Ag) SELAKU KHATIB AJAK JEMAAH UNTUK MENELADANI KELUARGA IBRAHIM AS

Ringkasan: Indragiri Hulu, (Inmas). Penyuluh Agama merupaka salah satu profesi fungsional yang ada pada Kementerian Agama, memiliki tugas selaku pendakwah di lingkukngan masyarakat tertentu yang menjadi sasaran binaan secara administratif, namun secara umum seorang penyuluh agama dapat mendakwahkan ilmu agama...

Indragiri Hulu, (Inmas). Penyuluh Agama merupaka salah satu profesi fungsional yang ada pada Kementerian Agama, memiliki tugas selaku pendakwah di lingkukngan masyarakat tertentu yang menjadi sasaran binaan secara administratif, namun secara umum seorang penyuluh agama dapat mendakwahkan ilmu agama yang dimilikinya kepada ummat secara keseluruhan.
Berdasarkan jadwal yang disusun oleh Lembaga Pendidikan dan Pengamalan Agama Islam (LP2A) Kecamatan Rengat Barat, maka pada hari Jum’at 15 Juli 2022 Penyuluh Agama Islam Fungsional pada KUA Kecamatan Rengat Barat atas nama Muhammad Rosidin, S.Ag bertindak selaku Khatib sekaligus Imam Shalat Jum’at di Masjid Babul Falah, Desa Pekan Heran, Kec. Rengat Barat. Tema khutbah yang disampaikan Keteladanan Keluarga Ibrahim as.
Kesabaran Ibrahim berbuah manis. Ia diganjar dengan karunia dari Allah SWT yang sangat berharga, yaitu putra pertama laki-laki bernama Ismail. Anak laki-laki yang juga memiliki kesabaran sebagaimana sang ayah.
Dalam situasi yang penuh bahagia, Ibrahim tiba-tiba mendapatkan cobaan. Ia bermimpi bahwa Allah SWT memintanya untuk menyembelih sang putra terkasih.
Ibrahim sebagai seorang ayah jelas tidak sanggup memenuhi perintah itu. Namun, sebagai seorang nabi dan seorang hamba, ia harus bertanggung jawab dan melaksanakan perintah yang sangat memberatkannya itu.
Bagi Ibrahim, perintah Allah SWT tetaplah perintah, dan ia harus mematuhinya. Apalagi ia menyandang predikat sebagai seorang nabi dan rasul. Akhirnya, ia melaksanakannya, dan lagi-lagi, tanggung jawabnya berbuah manis. Allah SWT menggantinya dengan binatang kurban yang besar.
Dari Hajar, istri Nabi Ibrahim, sekaligus ibu nabi Ismail Alaihis Salam juga kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah yang sangat bermanfaat.
Pertama, hikmah tauhid. Ketika Hajar ditinggalkan Ibrahim di padang tandus, ia tidak memiliki apapun. Jangankan harta, makanan pun tak ada. Namun sebagai manusia, ia tidak menyerah, selain bertawakkal kepada Allah SWT, ia juga mengiringinya dengan berikhtiyar. Ia berlari kecil dari bukit Shafa ke Marwah. Sayangnya, ia tak mendapatkan apa-apa. Namun, Hajar bukanlah perempuan biasa. Ia tidak menyerah dan masih terus berdoa, kemantapan tauhidnya membuatnya terus berserah diri kepada Allah. Baginya tidak ada daya upaya kecuali dari Allah SWT. Hingga akhirnya, jejakan kaki sang putra menjadi hasil dari doa dan usahanya. Mengucurlah air zamzam dari tapakan kaki Ismail kecil. Kepasrahan dan ketauhidan Hajar berbuah manis. Demikian rangkaian khutbah yang disampaikan M. Rosidin, dan mengakhri khutbahnya ia mengajak seluruh jemaah untuk meneladani keluarga Ibrahim as.(tulang)