Rokan Hilir (Inmas) - Profesi Penyuluh Agama Islam merupakan profesi yang unik di bandingkan dengan profesi yang lainnya. Profesi Penyuluh Agama tidak mengenal waktu untuk bekerja.
Hari ini, Sabtu malam (26/11/2022), Penyuluh Agama Islam Non PNS Kecamatan Bangko Junaidi Dasrul,S.AP melakukan bimbingan dan penyuluhan di Simpang Lembu Ujung Tanjung, yang di kemas dalam bentuk kegiatan 'Babang Ustadz Bercerita' , dengan Tema Pembahasan : 'Anak Adalah Aset Orang tua'.
"Mari kita menjaga amanah ini terutama persoalan ibadahnya kepada Allah SWT karena tidak semua anak yg menjadi titipan Allah kepada orangtua bisa mengangkat derajat orang tuanya dihadapan Allah. Kadang terjadi anaknya sendiri yg menjerumuskan orgtuanya masuk ke dalam neraka nya Allah, kalau tidak mampu mendidik, memotivasi atau mendorong anak-anaknya untuk beribadah atau menuntut ilmu terutama ilmu Agama," jelas Junaidi saat menyampaikan taushiyahnya.
Diantara isi taushiyah Ustadz Junaidi pada malam ini adalah sebagai berikut :
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; (QS. At-Taghabun 64:14)
Olehnya itu orang tua perlu berhati-hati dalam amanah Allah ini terutama apa yg dimakan anak-anak karena itu bagian dari tanggungjawab orang tua.
Ada sebuah kisah yg menjadi renungan buat kita sebagai orangtua yaitu kisah Abu Dujanah.
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, terdapat seorang bernama Abu Dujanah dan dia adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW. Abu Dujanah adalah orang yang sangat taat kepada agama dan Nabi Muhammad SAW. Dia selalu menjalankan ibadah yang dianjurkan oleh agamanya yaitu islam. Setiap usai menjalankan ibadah salat berjamaah shubuh bersama Nabi, Abu Dujanah selalu terburu-buru pulang tanpa menunggu pembacaan doa oleh Nabi Muhammad ketika selesai salat. Suatu Ketika, Nabi mencoba meminta klarifikasi pada Abu Dujanah ketika bertemu dengannya.
"Hai, apakah kamu ini tidak punya permintaan yang perlu kamu sampaikan pada Allah sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa. Kenapa kamu buru-buru pulang begitu? Ada apa?tanya Nabi Muhammad SAW kepada Abu Dujanah.
Abu Dujanah pun menjawab,Anu Rasulullah, saya punya satu alasan.
Apa alasanmu? Coba kamu utarakan!Lanjut Nabi Muhammad SAW.
Begini,kata Abu Dujanah sambil memulai menceritakan alasannya. Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki yahudi. Nah, di atas pekarangan rumah ada pohon kurma menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku tersebut saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.
Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anak-anakku sering kelaparan, kurang makan. Saya takut saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai shalat, Saya bergegas segera pulang sebelum anak-anak terbangun dari tidurnya dan memakannya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami tersebut yang berceceran di rumah, lalu kami kembalikan kepada pemiliknya.
Satu saat, kami pernah agak terlambat pulang. saya menemukan anakku yang sudah terlanjur makan kurma hasil temuannya. Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya yang ia pungut di bawah tanah tepat di rumah kami.
Mengetahui itu, Abu Dujanah pun memasukan jari-jari tangannya ke mulut anaknya itu. dia keluarkan apa pun yang ada di mulut anaknya. Abu Dujanah mengatakan pada anaknya, "Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak." Anakku lalu menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan.
Dia katakan kembali kepada anaknya itu,Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak.
Pandangan mata Nabi Muhammad pun sontak berkaca-kaca, lalu butiran air mata mulianya mulai berderai begitu deras. Seluruh jamaah sangat antusias mendengarkan.
Kami, tim Inmas yang sengaja mengikuti pengajian beliau juga sangat terkesima mendengar taushiyah beliau dalam bentuk cerita ini. Sehingga rasa lelah kami dari Bagansiapiapi tadi tidak terasa.
Saat kami berbincang-bincang dengan Ustadz Junaidi Dasrul selesai pengajiannya, Ustadz Junaidi mengatakan bahwa Penyuluh Agama Islam sebagai motor penggerak pembangunan bidang keagamaan, sudah seharusnya mampu memainkan peran vitalnya, selaku “agent of change” di manapun berada.
"Penyuluh juga dituntut untuk selalu mampu berperan sebagai “guru”, yang diminta dapat menularkan setiap pengetahuan, inovasi, informasi dan teknologi yang ada. Untuk itu Penyuluh Agama Bergerak tak mengenal waktu. Bahkan Saya jam 2 malam pernah datang orang ke rumah untuk meminta pendapat," ucap Junaidi.
"Paling tidak, kita harus mampu memberi jawaban atas masalah-masalah keagamaan , bukan hanya sebuah paradigma namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana Penyuluh bisa terus bergerak, tidak statis," papar Junaidi mengakhiri. (AjdSyaheed)