0 menit baca 0 %

Peran Strategis PAI Bangko Giat Penyuluhan Cegah Stunting

Ringkasan: Rokan Hilir (Inmas) Pemerintah secara agresif terus berupaya menurunkan prevalensi stunting dengan target sebesar 14 persen pada 2024. Salah satu strateginya berupa kampanye perubahan perilaku untuk mencegah stunting yang memerlukan keterlibatan seluruh elemen bangsa, baik individu, kelompok, maupun...

Rokan Hilir (Inmas) – Pemerintah secara agresif terus berupaya menurunkan prevalensi stunting dengan target sebesar 14 persen pada 2024. Salah satu strateginya berupa kampanye perubahan perilaku untuk mencegah stunting yang memerlukan keterlibatan seluruh elemen bangsa, baik individu, kelompok, maupun komunitas keagamaan.

Dalam hal ini, Penyuluh Agama Islam sebagai mitra pemerintah dinilai memiliki potensi besar bagi kampanye pencegahan stunting ini. Terlebih, salah satu survei global menempatkan Indonesia pada peringkat ke-7 negara paling religius di dunia, sehingga karakteristik ini kian memperbesar peluang untuk mengedukasi masyarakat melalui pendekatan keagamaan bagi Penyuluh Agama Islam.

Peluang inilah yang benar-benar dimanfaatkan oleh Junaidi Dasrul,S.AP, seorang Penyuluh Agama Islam Non PNS yang bertugas di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bangko yang giat melakukan Penyuluhan Pencegahan Stunting baik di pengajian binaannya maupun di tengah-tengah kelompok masyarakat, terutama kelompok majelis pengajian Ibuk-ibuk.

Hari ini, Rabu (9/11/2022) Junaidi melakukan penyuluhan 'Pandangan Islam dalam Pencegahan Stunting' kepada Majelis Pengajian Ibuk-ibuk Batim 1 (Bagan Timur Bersatu) yang bertempat di Jalan Selamat Kelurahan Bagan Timur 

“Peran penyuluh agama Saya kira sangat vital, sebab kita hadir langsung di tengah komunitas. Khotbah, ceramah, dan tausiah dapat menjadi media pendidikan yang efektif untuk meneruskan pesan-pesan kebaikan kepada umat, termasuk edukasi bahaya stunting dan cara mencegahnya,” tegas Junaidi Dasrul yang merupakan Penyuluh Teladan Tingkat Provinsi tahun ini.

Lebih jauh Junaidi menjabarkan pesan-pesan dakwah seputar pencegahan stunting yang disampaikannya. Pertama, sebut Junaidi, ajakan hidup bersih dan sehat dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, termasuk di dalamnya tidak buang air sembarangan.

“Kebersihan itu bagian dari iman. Ini harus dibudayakan,” ucapnya.

Yang kedua, sambung Junaidi adalah ajakan mengonsumsi makanan bergizi, terutama bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi berusia 2 tahun. Menurutnya, ini juga telah diajarkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 168.

“Asupan gizi yang baik menjadi kunci pertumbuhan dan perkembangan agar anak terhindar dari stunting,” tutur Junaidi yang juga guru Agama dan Pancasila di salah satu SMP Negeri ini.

Yang ketiga, Junaidi mengajak para orang tua untuk memberikan pengasuhan yang baik kepada anak-anaknya.

“Pengasuhan di keluarga merupakan salah satu faktor pembentuk karakter dan kualitas manusia Indonesia ke depan,” ujarnya.

“Selanjutnya, perkawinan juga harus dilakukan oleh pasangan berusia matang, baik fisik, psikologis, spiritual, maupun ekonomi, yaitu setidaknya pada usia 19 tahun menurut ketentuan UU [undang-undang], " tambah Junaidi lagi.

Junaidi menjelaskan, pertimbangan mengenai ketentuan tersebut bukan terletak pada masalah boleh atau tidak boleh, melainkan mempertimbangkan kemaslahatan.

“Jadi, pertimbangan yang digunakan untuk menunda sampai kepada situasi itu adalah mengambil yang paling maslahat. Walaupun boleh tapi kalau itu tidak maslahat, harus kita hindarkan,” imbuh Penyuluh yang dikenal dengan panggilan Babang Ustadz ini.

Sementara itu Yuniati, Ketua Majelis Ta'lim menyampaikan ucapan terima kasih kepada Junaidi Dasrul karena telah memberikan Penyuluhan yang sangat bermanfaat bagi ibuk-ibuk majelis pengajian.

“Semoga melalui dakwah yang sejuk dari Ustadz Junaidi,  kesadaran dan kepedulian Ibuk-ibuk terhadap stunting kian meningkat, demi terwujudnya cita-cita mencetak generasi muda bangsa yang sehat, cerdas, unggul, dan berdaya saing,” ucap Yuniati. (AjdSyaheed)