Riau (humas)- Pasca pemerintah memutuskan pembatalan keberangkatan jemaah haji Indonesia sejak tanggal 2 Juni lalu. Hingga hari ini Kakanwil Kemenag Riau Dr H Mahyudin terus melakukan sosialisasi di sejumlah media mainstream yang ada di Riau. Kali ini sosialisasi dikemas dalam bentuk dialog interaktif yang diselenggarakan oleh Riau Televisi pada pukul 20.00 WIB, Jumat (03/07) malam.
Menurut mahyudin Keputusan Menag no 494 Tahun 2020 tentang Pembatalan Keberangkatan Jemaah Haji pada Penyelenggaraan Ibadah haji tahun 1441 H/2020 M melahirkan pilihan kepada Jemaah untuk mengambil kembali atau tidak setoran pelunasannya.Â
Ia menilai sosialisasi pembatalan atau penundaan ini urgen untuk terus dilakukan kepada seluruh Jemaah calon haji. Termasuk yang tinggal di daerah terpencil yang tidak memiliki akses informasi. “Agar para calon jemaah haji tidak bingung dan bisa menerima dan berlapang dada dengan keputusan pemerintah tersebut” katanya.
Mahyudin sepakat kebijakan ini meskipun pahit dilakukan sebagai upaya pemerintah untuk mencegah penularan covid-19 khususnya bagi Jemaah haji. Disisi lain kendati ibadah haji tetap dilaksanakan, sambungnya. Pemerintah Arab Saudi membuka masjidil haram dan masjid nabawi secara terbatas bagi Jemaah. “Ini pun terbuka hanya untuk warga setempat dan ekspatriat, dengan kuota yang jauh dari biasanya, yakni sekitar sepuluh ribu saja,” katanya.
Dalam dialog tersebut Mahyudin juga menyinggung terkait perjuangan tim krisis ibadah haji Indonesia yang sudah dibentuk Kemenag sejak terjadi pandemi. Masing masing mereka bertugas untuk merancang, menyusun dan mitigasi krisis penyelenggaraan haji pada tahun 2020. “Setelah tim ini bekerja, maka lahirlah sejumlah mitigasi terkait penyelenggaraan haji tahun ini,” imbuhnya.
Menurut Mahyudin scenario mitigasi penyelenggaraan haji yang disusun tim ini juga menyesuaikan perkembangan dinamika covid-19 di Arab Saudi maupun di tanah air. Sejak April 2020 lalu tim krisis Haji Kemenag telah menghasilkan scenario penyelenggaraan haji. Pertama haji akan dilaksanakan secara normal, artinya layanan haji tetap berjalan. Misalnya saja tetap dilaksanakan manasik secara daring, pelunasan BPIH dengan protocol kesehatan. Kedua ibadah haji diselenggarakan dengan pembatasan kuota dan protokol yang sangat ketat.
“Ini jelas akan memakan waktu yang panjang karena Jemaah harus melakukan karantina selama 14 hari, terlebih lagi tanggal 26 juni 2020 adalah awal kloter pertama keberangkatan haji Indonesia dan ketiga penyelenggaraan haji tahun ini dibatalkan," papar Mahyudin.
Banyak hikmah yang bisa dipetik dari pembatalan keberangkatan haji tahun ini. “Pengalaman selama ini membuktikan masih banyak segelintir Jemaah kita yang belum matang ilmu manasik, belum lagi bila ada ketua rombongan yang tidak bisa membimbing anggotanya secara optimal,” jelasnya.Â
Kepada Jemaah Indonesia, Riau khususnya tak henti-hentinya mengingatkan kepada jemaah untuk ikhlas dan berlapang dada. Mahyudin berharap jemaah Riau bisa memanfaatkan secara optimal waktu yang panjang ini, hingga jelang persiapan keberangkatan haji tahun 2021.
"Tujuan akhir ibadah haji adalah mendapatkan haji yang mabrur, ini kesempatan yang panjang belajar, menambah ilmu manasik bagi jemaah untuk menjadi haji yang mabrur," tukasnya.
Menanggapi hal itu, Wawako Kota Pekanbaru H Ayat Cahyadi SS.I yang turut hadir sebagai narasumber pada dialog tersebut mengaku terharu dengan adanya pembatalan keberangkatan haji Indonesia tahun ini. Ayat Cahyadi meminta Jemaah untuk bersabar.
“Manusia hanya bisa berencana, semua yang terjadi dalam hidup itu ghoib, Allah yang menentukan semuanya, jangankan satu tahun, yang terjadi satu menit kedepan saja kita tak akan pernah tahu, maka bersabarlah,” ucapnya.
Ia mengajak para jemaah untuk menerima kebijakan ini dengan ikhlas. Di Pekanbaru sendiri ada 858 jemaah calon haji yang batal berangkat. “Ini bukan dibatalkan, tapi hanya ditunda hingga tahun depan,” katanya menyepakati yang disampaikan Kakanwil. “Apalagi niatnya sudah sampai, tinggal menunggu keberangkatan saja tahun depan,” pintanya.
“Penundaan ini lantaran ada wabah covid-19, sungguh tak bisa terbayangkan bagaimana sekian puluh juta Jemaah yang berpotensi terpapar virus corona jika tetap diberangkatkan, jangan bersedih, jangan larut, bersabar dan ikhlas” terangnya.
Ia mengajak para jemaah calon haji untuk meramaikan masjid dengan tetap mengikuti protokol kesehatan. Ayat Cahyadi menyakini geliat jemaah haji yang kian tinggi dari tahun ke tahun tak lain untuk ke tanah suci, tak lain karena kesadaran kaum muslimin untuk menunaikan ibadah haji. Kedua, Karena adanya peningkatan dalam kesejahteraan ekonomi masyarakat muslim. "Bila perlu menyiapkan tabungan ibadah untuk berhaji," kata Ketua IPHI ini.
Selain itu ia mengingatkan jemaah untuk semakin meningkatkan ibadah. "Tak hanya sholat wajib, banyak ibadah Sunnah seperti ba'diyah dan qabliyahnya, puasa sunnahnya selama menunggu keberangkatan haji tahun depan," harap Wawako.
"Sungguh menakjubkan orang beriman itu, jika mendapatkan nikmat dia bersyukur, jika mendapatkan musibah dan cobaan ia bersabar," ungkap Wawako di penghujung acara.
"Sabar, sabar sembari terus tingkatkan Ilmu, perbanyak ibadah, insyaallah dimudahkan Allah SWT," tandasnya.(vera)