Semarang (Inmas)- Kesejahteraan guru honorer Kementerian Agama (Kemenag) sampai saat ini masih jauh di bawah harapan. Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Ali Rhamdani mengatakan, nasib guru agama dan guru madrasah non PNS di Kemenag masih menjadi masalah yang tak mudah dipecahkan.
"Banyaknya guru honorer yang belum disertifikasi tidak sebanding dengan kuota pengangkatan per tahun. Bila tidak ada lompatan, akan banyak guru-guru yang tak pernah merasakan sertifikasi sampai pensiun," katanya pada saat acara Evaluasi Pelaksanaan Program Profesi Guru dan Tenaga Pendidikan di Hotel Aston, Semarang, Kamis (03/09).
Guru honorer mendapat
beban tugas yang sama dengan guru PNS. Mereka mengajar dengan jumlah jam yang
sama tingginya, namun kesejahteraannya jauh di bawah PNS. Sampai saat ini, guru
honorer non sertifikasi dan non penyesuaian (inpassing) hanya mendapat gaji
dari pemerintah sebesar Rp250 ribu per bulan dan sedikit tambahan insentif dari
dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Hal itu masih
dirasakan tidak adil bagi guru-guru honorer. Angka ini, kata Dirjen Pendis,
memang sifatnya sebagai pendukung saja, bukan tarif dasar. Namun harus diakui
itu masih jauh di bawah garis kebutuhan hidup saat ini.
Dirjen Pendis
mengatakan, ke depan pihaknya akan melihat lagi permasalahan ini untuk
dicarikan solusi yang terbaik. Penghargaan kepada guru itu penting sebagai cara
pemerintah menghargai karya bhakti anak bangsa. "Memang salah satu tujuan
acara evaluasi adalah mencari titik kekurangan untuk diperbaiki. Keluhan-keluhan
guru akan kita tangkap betul dan kami respek terhadap persoalan ini,"
katanya.
Pada kesempatan yang
sama, Staff Ahli Menteri Agama Kevin Haikal mengungkapkan, pada masa pandemi
ini kesulitan guru menjadi meningkat. Tentang pembelajaran jarak jauh, ia
melihat banyak kendala di lapangan.
"Ada yang
melapor ke saya, sebagian guru di desa-desa ada yang harus berkeliling ke
rumah-rumah sebagian siswanya karena sekeluarga tidak ada yang memiliki
ponsel," katanya.
Dengan cara jemput bola seperti itu, pastinya energinya akan sangat besar dan biayanya pasti akan meningkat. Ia ingin memastikan, negara hadir pada saat seperti itu. "Tunjangan profesi guru sebenarnya salah satu bentuk kehadiran negara walaupun jumlahnya belum sesuai harapan," katanya.
Saat ini kuota sertifikasi setiap tahun adalah 10 ribu orang. Bila saat ini terdapat 400 ribu guru honorer yang belum sertifikasi, maka diperlukan waktu 40 tahun mengentaskan mereka semua. Itupun jumlahnya segera bertambah lagi.
Terdapat tiga
kategori tunjangan guru bukan PNS. Pertama, guru Non PNS yang sudah sertifikasi
dan juga sudah inpassing (penyesuaian). Mereka mendapat hak tunjangannya
sebagaimana guru PNS.
Kedua, guru Non PNS yang belum sertifikasi tetapi sudah inpassing. Mereka mendapat tunjangan sebesar Rp 1,5 juta per bulan dan honor kelebihan jam mengajar. Ketiga, guru yang belum sertifikasi dan belum inpassing. Mereka mendapat insentif sebesar Rp250.000 per bulan, dan honor tenaga mengajar yang bersumber dari dana BOS.