Bengkalis (Inmas) -Penyelenggara Buddha Kantor
Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis menggelar kegiatan Pembinaan Manajemen
Sekolah Minggu Buddha (SMB) yang diikuti oleh 30 peserta dari perwakilan 15 SMB
di Wilayah Bengkalis.
Kegiatan yang menyasar pengurus dan pendidik
Sekolah Minggu Buddha (SMB) di Bengkalis, Riau itu bertujuan untuk
meningkatkan tata kelola organisasi keagamaan dan kualitas sumber daya manusia dalam
mengelola lembaga keagamaan Buddha.
Dalam pembinaan tersebut, Penyelenggara Buddha
Kabupaten Bengkalis Dito menghadirkan narasumber dari pakar atau praktisi
dibidangnya, seperti Pengawas Pendidikan Agama Buddha Wiryanto dan Guru Agama
Buddha Surono.
Sekolah
Minggu Buddha merupakan sekolah non formal dan kegiatannya dilaksanakan di luar
sekolah, tidak jarang muncul masalah yang dihadapi oleh pengurus dan pendidik
SMB. Mulai dari masalah operasional, materi pembelajaran, kegiatan, hingga
berkaitan dengan kedisiplinan siswa SMB.
Dito berharap “Melalui para narasumber yang kami
hadirkan ini, moga setiap pengurus dan pendidik Sekolah Minggu Buddha di
Bengkalis dapat meningkatkan tata kelola dan metode mengajar di SMB kedepannya
sehingga akan terbentuk inovasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan Agama
Buddha khususnya di wilayah Bengkalis.” ujar Dito di Marina Hotel, Bengkalis,
Minggu (19/06/2022).
Kepala Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis
Khaidir, memberikan respon positif adanya kegiatan pembinaan manajemen SMB ini.
Dalam sambutannya, Khaidir mengatakan
peningkatan tata kelola itu penting dan menjadi kunci suatu organisasi tumbuh
dengan tahapan yang jelas. “Tanpa
tata kelola tidak bisa memiliki daya saing. Dengan tata kelola, suatu organisasi
menjadi lebih efektif dan efisien,” ujar Khaidir.
Pada kesempatan yang sama, Pengawas Pendidikan
Agama Buddha Wiryanto menjelaskan pentingnya meningkatkan sumber daya manusia
untuk mencetak leader yang memiliki integritas dan kredibilitas.
Menurutnya, ada empat faktor yang harus dicapai
untuk dapat meningkatkan SDM yang proposional. “Menjadi SDM yang berdaya saing harus memperhatikan empat
faktor, seperti memperhatikan kompetensi teknis, kompetensi sosio kultural,
kompetensi manajerial, dan kompetensi kelembagaan, ujarnya.
Selain itu, Guru Agama Buddha Surono juga
menyampaikan agar SMB memiliki kurikulum terstruktur dan tidak terstruktur. “Kurikulum menjadi pedoman dan ada
kesamaan pandangan dalam pelaksanaan Sekolah Minggu Buddha,” ujar Surono.
Surono menambahkan, SMB bukan hanya sebagai
pelengkap pendidikan agama untuk sekolah formal saja. Melainkan, SMB harus bisa
menanamkan keyakinan pada siswa lewat kegiatan praktek.
Para perwakilan Sekolah Minggu Buddha yang hadir
tampak antusias mengikuti pembinaan, tampak sesi tanya jawab dengan narasumber
dan juga menyampaikan beberapa masalah selama proses belajar mengajar, seperti
sekolah formal mengubah catatan pada nilai siswa yang dikirimkan oleh SMB tanpa
adanya komunikasi terlebih dulu, kurangnya honorarium dan tenaga guru yang
mengajar di SMB.