Rokan Hilir (Inmas) – Penyuluh dalam memberikan bimbingan dan dakwah di masyarakat hendaknya memiliki empat kompetensi, yakni kompetensi dakwatologis, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial supaya hasilnya bisa lebih optimal bagi masyarakat.
Seperti disampaikan Junaidi Dasrul,S.AP, Penyuluh Agama Islam Kemenag Rohil, saat ditemui Inmas disela-sela jam kerjanya, Rabu (29/3/2023).
Junaidi menjelaskan bahwa melalui penguasaan kompetensi dakwatologis, penyuluh harus memahami hal yang berkaitan dengan unsur-unsur pelaksanaan penyuluhan, dimana penyuluh memahami terhadap konsep dasar penyuluhan, pendekatan penyuluhan, teknik-teknik penyuluhan dan teori-teori penyuluhan.
“Metode pelaksanaan penyuluhan saat ini lebih cenderung bersifat konvensional, belum partisipatif dan transformatif, sehingga penyuluh harus menguasai media, psikologi, manajemen dan terutama aspek metodologi penyuluhan, yaitu cara yang dilalui seorang penyuluh dalam menyampaikan pesan penyuluhannya yang perlu ditingkatkan kualitasnya,” paparnya serius.
Selain itu, Penyuluh yang pernah mengharumkan Kemenag Rohil pada pemilihan Penyuluh Teladan tingkat Provinsi Riau tahun 2022 lalu, juga menjelaskan bahwa penyuluh juga harus memiliki kompetensi profesional, dimana untuk melaksanakan tugasnya, seorang penyuluh agama haruslah memiliki kualifikasi dan pengetahuan agama maupun kepribadian tertentu, sikap, dan keterampilan sehingga dakwahnya bisa profesional.
"Ada banyak kepribadian yang hendaknya dimiliki penyuluh sebagai “penerang” di masyarakat antara lain Aqidah yang benar dan kokoh, Akhlak yang mantap, bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi masyarakat, Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, bertindak objektif dan lainnya,” ungkap Junaidi.
Junaidi juga menjelaskan penyuluh juga diharapkan mempunyai komunikasi sosial, yakni menjadi personal yang santun dan baik sehingga mudah diterima masyarakat setempat sehingga harus memiliki kreatifitas yang tinggi karena tantangan dakwah yang dihadapi saat ini semakin kompleks.
“Banyak tantangan di masyarakat dewasa ini seperti perubahan perilaku masyarakat akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, berkembangnya wacana islam yang fundamentalis dan radikal, dan liberal dan problem moralitas yang kian merosot dan melemah,” katanya.
Hal senada diungkapkan Kasi Bimas Islam Kemenag Rohil H. Suhaimi,S.Ag, bahwa kata kunci keberhasilan fungsi penyuluhan di masyarakat adalah Kreatifitas para penyuluh, optimalisasi pemberdayaan penyuluh dan berjalannya proses evaluasi penyuluh sehingga berjalan atau tidaknya penyuluhan di masyarakat dapat dipantau dengan baik untuk kemudian dipetakan.
"Kami mengharapkan Penyuluh Menguasai peta dakwah, Mampu menyusun rencana kerja, Piawai menganalisis data potensi wilayah, Cermat membidik sasaran yang belum tergarap para ulama/kyai/da’i dan disinilah fungsi manajerial Kelompok Kerja Penyuluh Perlu dioptimalkan,” ucap Suhaimi.
Menurutnya, Penyuluh Agama Islam mempunyai peran penting dalam masyarakat, yakni sebagai tangan panjang Kementerian Agama dalam melakukan pembinaan umat sehingga potensi ini perlu dioptimalkan melalui pembinaan dan evaluasi secara rutin dan berkesinambungan sehingga dakwah bisa tepat sasaran.
“Apalagi jumlah penyuluh yang hampir tersebar di semua desa perlu ditingkatkan kualitasnya dan pembinaannya,” pungkas Suhaimi. (BabangUst)